faktual.news – Pimpinan Badan Gizi Nasional BGN Sudaryono secara blak-blakan membeberkan fakta mengejutkan terkait insiden keracunan yang kerap terjadi usai masyarakat mengonsumsi program Makan Bergizi Gratis MBG. Menurutnya biang keladi utama bukan pada proses memasak melainkan pada kondisi bahan baku terutama lauk pauk dan sayuran yang sudah tidak layak konsumsi. Sumber protein hewani seperti ayam telur ikan dan daging olahan disebut-sebut sebagai jenis makanan yang paling sering menjadi pemicu masalah kesehatan ini.
Sudaryono menjelaskan bahwa selama 50 hari menjabat sebagai Kepala BGN ia telah menyaksikan banyak kasus gangguan kesehatan yang dipicu oleh kerusakan bahan makanan. Ia menegaskan percuma saja jika proses memasak sudah sesuai standar namun bahan baku yang digunakan sejak awal sudah tidak layak konsumsi. Hasilnya tetap sama keracunan tidak dapat dihindari.

Menyikapi kondisi ini BGN kini memperketat pengawasan mulai dari hulu. Pemeriksaan ketat diberlakukan saat bahan baku tiba di dapur-dapur MBG. Tidak hanya itu BGN juga sedang merancang sistem semacam marketplace khusus untuk pengadaan bahan baku terutama protein hewani yang memerlukan penanganan khusus. Platform ini dirancang untuk menjamin kualitas bahan yang diterima sesuai dengan spesifikasi pembelian sekaligus mengeliminasi praktik penggelembungan harga. Jangan sampai yang dibeli kualitas A namun yang datang justru kualitas D tegas Sudaryono.
Selain bahan baku pengawasan juga menyasar Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi SPPG atau dapur MBG. Sudaryono mengungkapkan inspeksi dilakukan secara bertahap dan dapur yang tidak memenuhi standar akan langsung dihentikan operasionalnya. Dapur yang tidak sesuai sudah kami tutup kepala dapur serta pekerja yang tidak kompeten sudah kami keluarkan dan ini akan terus kami lakukan ujarnya.
Data BGN menunjukkan lebih dari seribu dua ratus SPPG yang belum mengantongi Sertifikat Laik Higiene Sanitasi SLHS telah dikenai sanksi penutupan atau penghentian operasional sementara. Sanksi ini berlaku bagi dapur yang belum mendaftar sudah mendaftar namun belum lolos atau masih dalam proses pemenuhan persyaratan. BGN juga mewajibkan kepala dapur untuk selalu berada di lokasi selama proses memasak berlangsung sebuah perubahan tata kelola setelah evaluasi mendalam.
Memasak untuk ribuan orang setiap hari kata Sudaryono jauh berbeda dengan menyiapkan hidangan pribadi. Skala produksi yang masif membawa kompleksitas tersendiri sehingga setiap tahapan harus mengikuti Standar Operasional Prosedur SOP secara ketat. Mulai dari bahan baku proses memasak hingga tingkat kematangan makanan semua harus sesuai kaidah keamanan pangan.
Untuk memperkuat pengawasan dan mengantisipasi potensi kejenuhan pekerja dapur yang beroperasi setiap hari BGN akan berkolaborasi dengan Badan Pengawas Obat dan Makanan BPOM Kementerian Kesehatan serta dinas kesehatan di daerah.
Pernyataan Sudaryono ini muncul di tengah maraknya laporan gangguan kesehatan pasca konsumsi MBG di berbagai wilayah. Di Tana Toraja Sulawesi Selatan misalnya 193 siswa SMP Negeri 1 dan SMP Negeri 2 mengeluhkan sakit setelah menyantap MBG. Hasil pemeriksaan BBPOM Makassar menemukan cemaran bakteri Escherichia coli E coli pada sampel ayam masak bumbu kuning.
Kasus serupa juga terjadi di Lombok Tengah Nusa Tenggara Barat di mana 352 siswa dari sejumlah SD di Kecamatan Batukliang mengalami muntah-muntah dan pusing. Di Sidoarjo Jawa Timur 748 santri dan pelajar di 19 sekolah di Kalitengah Tanggulangin juga mengalami keluhan kesehatan serupa. Dapur SPPG penyedia makanan tersebut langsung dihentikan sementara operasionalnya. Laporan gangguan kesehatan juga datang dari Pati Bantul dan Madiun dengan penyebab yang masih dalam investigasi pihak berwenang.


