Faktual News – Pembukaan perdagangan perdana Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Jumat, 2 Januari 2026, kembali menjadi sorotan. Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, terpantau absen dari seremoni penting ini, menandai kali kedua berturut-turut Kepala Negara tidak menghadiri agenda pembukaan pasar modal nasional. Namun, di balik ketidakhadiran tersebut, optimisme pasar dan ambisi besar BEI tetap membara.
Menanggapi situasi ini, Menteri Keuangan RI, Purbaya Yudhi Sadewa, memberikan penjelasan lugas. Menurutnya, Presiden Prabowo saat ini tengah menjalankan kunjungan kerja ke wilayah-wilayah yang terdampak bencana, khususnya di Aceh. "Presiden lagi di Aceh. Itu juga menunjukkan bahwa presiden amat peduli dengan masalah yang dihadapi masyarakat," ujar Purbaya kepada awak media di Jakarta. Penjelasan ini menekankan prioritas kemanusiaan yang diemban Kepala Negara di tengah awal tahun yang krusial.

Senada dengan Purbaya, Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Inarno Djajadi, menegaskan bahwa ketidakhadiran fisik Presiden tidak menjadi penghalang bagi kelancaran dan kredibilitas pembukaan perdagangan pasar modal. Inarno berpendapat bahwa dukungan Presiden terhadap pasar modal Indonesia tidak melulu harus diwujudkan melalui kehadiran dalam seremoni. "Nggak ada masalah, Presiden kan yang penting adalah dukungan kepada pasar modal bukan kehadirannya. Banyak hal yang lebih penting juga seperti kemarin kan beliau baru dari Aceh, baru dari Medan segala macam. Tentunya itu yang menjadi prioritas saat ini," jelas Inarno dalam kesempatan terpisah, menggarisbawahi komitmen Presiden melalui kebijakan dan perhatiannya terhadap isu-isu fundamental.
Di tengah dinamika tersebut, Purbaya Yudhi Sadewa juga menyampaikan optimisme tinggi terkait target Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang diproyeksikan mencapai level 10.000. Saat ini, IHSG telah berhasil menembus level 8.000, menunjukkan fondasi ekonomi yang kian kokoh. "Kalau saya lihat fondasi ekonominya yang sudah agak membaik sekarang, tahun ini akan lebih baik lagi karena kebijakan kita dengan Bank Indonesia (BI) sudah amat sinkron. Harusnya ekonomi akan tumbuh lebih cepat. Angka 6 persen bukan mustahil dicapai tahun ini jadi pelaku pasar siap-siap aja," tambah Purbaya, memberikan sinyal positif bagi para investor.
Meskipun demikian, Direktur Utama BEI, Iman Rachman, memilih untuk tidak menetapkan target spesifik untuk IHSG. Namun, ia tetap memancarkan optimisme terhadap pergerakan positif pasar modal. "Saya tidak targetin indeks, optimisme iya," tegas Iman, menunjukkan pendekatan realistis namun tetap bersemangat.
BEI sendiri telah menyusun serangkaian tujuan strategis untuk periode 2026-2030 guna menjaga momentum pertumbuhan pasar modal nasional. Salah satu ambisi terbesar adalah mendorong pasar modal Indonesia agar dapat masuk ke dalam jajaran 10 bursa terbaik dunia, baik berdasarkan kapitalisasi pasar maupun nilai transaksi. Tujuan ini tidak hanya untuk kebanggaan, melainkan juga untuk memberikan manfaat optimal bagi investor, emiten, dan perekonomian nasional secara keseluruhan.
Untuk mencapai target ambisius tersebut, BEI juga telah menetapkan sejumlah asumsi berdasarkan kondisi makroekonomi domestik dan global. Untuk tahun 2026, BEI mengasumsikan Rata-rata Nilai Transaksi Harian (RNTH) akan mencapai angka Rp15 triliun. Dari sisi pencatatan, BEI menargetkan sebanyak 555 pencatatan efek baru, dengan 50 di antaranya merupakan saham baru. Tidak hanya itu, BEI juga berkomitmen untuk terus memperluas basis investor dengan menargetkan penambahan dua juta investor baru pada tahun 2026, melalui berbagai kanal distribusi informasi dan edukasi. (*)
Editor: Yulian Saputra
