Faktual News – PT Optima Prima Metal Sinergi Tbk (OPMS), emiten yang selama ini dikenal sebagai pemain utama dalam perdagangan logam bekas kapal, siap membuat gebrakan besar. Perusahaan ini mengumumkan rencana diversifikasi usaha secara masif, dengan menambahkan 16 lini bisnis baru yang berbeda pada tahun 2026. Langkah strategis ini, yang telah memperoleh persetujuan pemegang saham pada Desember 2025, merupakan bagian dari upaya Perseroan untuk memperluas sumber pendapatan dan mengoptimalkan nilai bagi para investor.
Pergeseran fokus OPMS sangat mencolok, yakni merambah industri pangan. Berbagai segmen akan digarap, mulai dari perdagangan gula, cokelat, kembang gula, kopi, teh, kakao, hingga aneka makanan dan minuman hasil pertanian. Tak berhenti di situ, OPMS juga akan terlibat dalam perdagangan buah-buahan, telur dan produk olahannya, susu dan turunannya, minuman non-alkohol non-susu, serta kategori makanan dan minuman umum lainnya. Bahkan, ekspansi ini mencakup perdagangan besar komoditas strategis seperti beras, sayuran, minyak nabati, daging ayam dan sapi beserta olahannya, hingga merambah ritel roti, kue kering, dan kue basah.

Rubbyanto Handaja Kusuma, Direktur OPMS, menegaskan bahwa ke depan, Perseroan akan memprioritaskan pengembangan pada sektor Fast Moving Consumer Goods (FMCG). Meskipun demikian, bisnis inti perdagangan besi scrap tidak akan ditinggalkan. "Perseroan akan tetap berupaya mengoptimalkan supply chain dan mengamankan rantai pasok besi scrap yang stabil demi menjaga kontribusi pendapatan dari segmen tersebut," jelas Rubbyanto dalam keterangan resmi yang diterima Faktual News pada Selasa, 6 Januari 2026. Ia menambahkan, dampak finansial dari lini bisnis baru ini, termasuk perekrutan tenaga ahli, akan mulai tercatat dalam laporan keuangan kuartal IV 2025 dan diharapkan rampung dilaporkan paling lambat 31 Maret 2026.
Respons positif datang dari kalangan analis. Herditya Wicaksana, Analis Teknikal MNC Sekuritas, menilai aksi korporasi ini berpotensi kuat mendongkrak sentimen fundamental harga saham OPMS. "Strategi diversifikasi ini membuka peluang besar untuk peningkatan pendapatan di masa mendatang," ujar Herditya. Ia menambahkan, dengan proyeksi kinerja yang membaik dan potensi dividen yang menarik, minat investor terhadap saham OPMS diprediksi akan semakin tinggi, mendorong kenaikan harga saham. Lebih lanjut, Herditya melihat bahwa lini bisnis baru ini akan membuka pintu kerja sama dengan berbagai principal baru. Keunggulan jaringan distribusi OPMS yang terkonsentrasi di Madura dan Jawa Timur juga akan menjadi aset strategis untuk memperkuat rantai pasok pangan di tingkat regional.
Tak heran, pasar merespons aksi korporasi ambisius ini dengan sangat antusias. Harga saham OPMS melonjak signifikan, tercatat naik 163,38 persen dalam enam bulan terakhir hingga Selasa (6/1). Bahkan, pada perdagangan hari itu saja, saham OPMS kembali menguat 22,50 persen, mencapai level Rp196 per saham dari posisi sebelumnya Rp160. Lonjakan harga ini memicu spekulasi di kalangan investor mengenai kemungkinan masuknya investor strategis atau mitra kerja, baik melalui akuisisi bertahap maupun skema kerja sama operasional yang lebih luas dengan Perseroan.
Dengan langkah diversifikasi yang berani ini, OPMS tidak hanya mengubah wajah bisnisnya, tetapi juga menancapkan ambisi untuk menjadi pemain kunci di sektor pangan nasional. Transformasi ini diharapkan tidak hanya mendongkrak kinerja keuangan Perseroan, tetapi juga memberikan nilai tambah yang signifikan bagi seluruh pemangku kepentingan di masa depan.
