Faktual.news – Pasar keuangan global tengah mengalami guncangan hebat setelah imbal hasil (yield) obligasi pemerintah Amerika Serikat (AS) tenor 30 tahun melonjak drastis hingga menembus angka 5,48 persen. Level ini tercatat sebagai yang tertinggi sejak tahun 2004, dipicu oleh kekhawatiran pasar terhadap laju inflasi, dinamika pertumbuhan ekonomi, serta membengkaknya belanja pemerintah AS.
Kenaikan tajam di negara adidaya tersebut memicu pertanyaan besar di kalangan investor global: apakah instrumen surat utang negara berkembang, khususnya Indonesia, masih layak untuk dilirik?

Menanggapi fenomena ini, pakar perencana keuangan Andi Nugroho memberikan pandangan optimis. Menurutnya, obligasi Indonesia masih memiliki daya tarik yang sangat kuat karena menawarkan imbal hasil yang jauh lebih kompetitif dibandingkan negara maju. Saat ini, obligasi RI bergerak di kisaran 7 persen, angka yang jauh melampaui obligasi AS yang berada di level 5,29 persen maupun obligasi Jepang yang hanya berkisar di angka 3,08 persen.
"Obligasi RI menurut saya masih cukup menarik dan bisa ‘melawan’ obligasi AS dan Jepang yang sedang dinamis," ujar Andi saat memberikan keterangannya kepada faktual.news.
Senada dengan Andi, perencana keuangan Mike Rini Sutikno menjelaskan bahwa selisih imbal hasil (yield spread) yang lebar antara Indonesia dan AS menciptakan peluang emas. Kondisi ini berpotensi memicu fenomena flight to yield, di mana investor mulai mengalihkan dananya ke pasar negara berkembang yang mampu memberikan keuntungan lebih tinggi, dengan catatan risiko tetap terukur.
Mike menambahkan bahwa stabilitas nilai tukar rupiah terhadap dolar AS saat ini menjadi faktor pendukung. Meski demikian, ia mengingatkan investor untuk tetap waspada terhadap arah kebijakan suku bunga The Fed, karena pergerakan kebijakan bank sentral AS tersebut akan sangat memengaruhi arus modal masuk ke pasar obligasi Indonesia.
Terkait strategi investasi, para ahli menyarankan agar investor menyesuaikan porsi obligasi dengan profil risiko masing-masing. Bagi investor konservatif, obligasi dapat mendominasi portofolio hingga 60-70 persen, terutama pada obligasi pemerintah dengan durasi menengah. Sementara bagi investor moderat, alokasi sekitar 50-60 persen dianggap ideal dengan mencampur obligasi pemerintah dan korporasi berperingkat tinggi. Untuk investor agresif, obligasi dapat dijadikan alat diversifikasi dengan porsi yang lebih kecil.
Satu pesan penting bagi para investor, terutama pemula, adalah penggunaan "uang dingin". Artinya, dana yang digunakan untuk membeli obligasi bukanlah dana darurat atau dana kebutuhan pokok, melainkan dana menganggur yang tidak akan mengganggu stabilitas finansial jika harus disimpan hingga jatuh tempo.
Selain mengejar imbal hasil tinggi, investor juga diingatkan untuk tidak hanya terpaku pada angka yield. Faktor-faktor seperti peringkat kredit penerbit, durasi, likuiditas, serta analisis terhadap prospektus harus diperhatikan secara mendalam guna menghindari risiko kerugian di pasar sekunder.


