Faktual.news – Langkah politik dan karier Luky Alfirman kembali menjadi sorotan publik setelah Presiden Prabowo Subianto secara resmi melantiknya sebagai Wakil Menteri Keuangan (Wamenkeu) yang baru. Pelantikan yang berlangsung di Istana Negara pada Kamis (1/10) ini menandai kembalinya sosok berpengalaman tersebut ke dalam lingkaran inti pengambil kebijakan ekonomi di Indonesia.
Luky tidak sendirian dalam prosesi ini. Ia dilantik bersama Nurkholisoh Ibnu Amman untuk menduduki posisi strategis yang sama dalam Kabinet Merah Putih periode 2024-2029. Penunjukan ini didasarkan pada Keputusan Presiden Nomor 104 P Tahun 2026 yang mengatur tentang pemberhentian serta pengangkatan menteri dan wakil menteri negara.

Kembalinya Luky ke Kementerian Keuangan (Kemenkeu) membawa narasi yang cukup emosional. Pasalnya, sebelum mendapatkan amanah baru ini, Luky sempat mengalami masa "hibernasi" setelah diberhentikan dari jabatannya sebagai Direktur Jenderal Anggaran oleh Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa pada April 2026 lalu.
Saat ditemui di Kantor Kemenkeu, Jakarta Pusat, usai prosesi pelantikan, Luky tidak menutupi gejolak emosinya. Ia mengaku merasakan campuran berbagai perasaan saat harus kembali memikul tanggung jawab besar di kementerian yang telah menjadi rumah baginya selama puluhan tahun.
"Kalau ditanya perasaan, saya campur aduk. Ada rasa antusias, tapi juga ada rasa kaget. Yang pasti tanggung jawab ini berat, Pak Menteri. Kemarin saya sempat menjalani masa hibernasi," ungkap Luky kepada awak media dengan nada reflektif.
Meski sempat menjauh dari hiruk-pikuk kebijakan, Luky menegaskan komitmennya untuk segera tancap gas. Ia menyadari bahwa waktu tidak bisa menunggu, terutama terkait pengelolaan keuangan negara. Oleh karena itu, ia meminta dukungan penuh dari seluruh jajaran di Kemenkeu agar dapat segera mengejar ketertinggalan.
Terkait agenda kerja, Luky menjelaskan bahwa dirinya dan Nurkholisoh tidak membawa program pribadi yang bersifat mandiri. Sebagai pembantu Presiden dan Menteri Keuangan, fokus utama mereka adalah menyelaraskan langkah dengan visi besar pemerintah. Namun, ia telah memetakan tiga prioritas utama yang akan segera dieksekusi.
Pertama, memastikan penyelesaian APBN 2026 berjalan mulus mengingat waktu yang tersisa hanya tinggal tiga bulan. Kedua, memulai persiapan matang untuk pelaksanaan APBN 2027. Ketiga, melakukan konsolidasi internal guna mempercepat transformasi dan reformasi di tubuh kementerian.
Rekam jejak Luky di Kemenkeu memang tidak perlu diragukan lagi. Memulai karier sejak tahun 1995, ia telah melewati berbagai posisi krusial, mulai dari Direktorat Jenderal Pajak hingga menjabat sebagai Direktur Jenderal Perimbangan Keuangan. Pengalamannya yang luas, termasuk keterlibatannya sebagai Dewan Komisioner ex-officio di Lembaga Penjamin Simpanan (LPS), diharapkan mampu memperkuat stabilitas fiskal di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo.


