<strong>Faktual.news – </strong> PT Angkasa Pura Indonesia akhirnya memberikan klarifikasi resmi terkait keputusan mengejutkan mereka untuk tidak lagi terlibat dalam operasional Bandara Dhoho Kediri. Langkah ini menyusul telah ditandatanganinya Perjanjian Pengakhiran Kerja Sama Operasi (KSO) antara pihak Angkasa Pura dengan PT Surya Dhoho Investama. Keputusan ini sempat memicu tanda tanya di kalangan pengamat transportasi mengenai alasan di balik berakhirnya kemitraan strategis tersebut.
Direktur Operasi PT Angkasa Pura Indonesia, Agus Hariyadi, mengungkapkan bahwa pengakhiran kerja sama ini bukanlah keputusan sepihak dari pihaknya. Sebaliknya, langkah ini merupakan permintaan langsung dari PT Surya Dhoho Investama selaku mitra kerja sama. Menurut Agus, alasan utama di balik permintaan tersebut adalah keinginan kuat dari pihak investor untuk mengelola dan mengembangkan bandara tersebut secara mandiri.

"Ini merupakan permintaan dari mereka. Kemungkinan besar karena mereka ingin melakukan pengembangan bandara secara mandiri," ujar Agus saat memberikan keterangan di sela-sela kegiatan Lokakarya Forum Wartawan Perhubungan di Bandung, Jawa Barat.
Agus juga memberikan penegasan penting untuk meluruskan spekulasi yang beredar. Ia menjamin bahwa pengakhiran KSO ini sama sekali tidak berkaitan dengan masalah hukum atau kegagalan dalam memenuhi kontrak. Ia memastikan tidak ada praktik wanprestasi atau pelanggaran perjanjian di antara kedua belah pihak. Hubungan kerja sama berakhir secara baik-baik sesuai dengan kesepakatan yang telah dibuat sebelumnya.
Namun, di sisi lain, Agus tidak menampik bahwa kondisi operasional Bandara Dhoho saat ini memang tengah menghadapi tantangan yang cukup berat. Ia mengakui bahwa volume lalu lintas penerbangan atau traffic di bandara tersebut belum mencapai angka yang maksimal. Kondisi ini dipengaruhi oleh dinamika industri penerbangan global yang sedang mengalami penurunan atau depresiasi.
Salah satu faktor utama yang menjadi penyebab adalah situasi geopolitik dunia yang tidak menentu. Ketegangan di berbagai belahan dunia telah memicu lonjakan harga bahan bakar pesawat atau avtur secara signifikan. Mengingat avtur merupakan komponen biaya operasional terbesar bagi maskapai penerbangan, kenaikan harga ini berdampak langsung pada penurunan frekuensi penerbangan, yang pada akhirnya memengaruhi trafik di Bandara Dhoho.
Dengan berakhirnya masa pengelolaan di Kediri, PT Angkasa Pura Indonesia kini fokus mengelola 36 bandara lainnya yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia. Adapun detail mengenai peralihan ini telah diatur dalam perjanjian yang diteken pada 31 Agustus, mencakup penyelesaian hak dan kewajiban, masa transisi, hingga penyerahan aset dan dokumen operasional.
Meski tidak lagi dikelola oleh Angkasa Pura, Kementerian Perhubungan memastikan bahwa operasional Bandara Dhoho Kediri tidak akan terhenti. Bandara ini tetap menjadi bagian vital dari sistem transportasi udara nasional. Berdasarkan Keputusan Direktur Jenderal Perhubungan Udara, tanggung jawab pengelolaan kini sepenuhnya beralih ke tangan PT Surya Dhoho Investama sesuai dengan regulasi yang berlaku.


