Faktual.news – Dinamika bisnis global saat ini tengah mengalami pergeseran paradigma yang sangat signifikan. Isu keberlanjutan atau sustainability kini bukan lagi sekadar pemenuhan kewajiban laporan ESG (Environmental, Social, and Governance) atau sekadar mengikuti regulasi pemerintah. Lebih dari itu, keberlanjutan telah bertransformasi menjadi instrumen strategis yang menentukan daya saing, alokasi modal, hingga arah pertumbuhan jangka panjang sebuah perusahaan.
Fenomena ini dibahas secara mendalam dalam riset terbaru Bank DBS Indonesia yang bertajuk The Sustainability Shift: Indonesia’s Industrial Landscape in Five Key Sectors, Opportunities and Risks. Laporan tersebut membedah bagaimana isu ketahanan energi, transformasi digital, hingga perubahan rantai pasok global mulai mendikte keputusan investasi di berbagai sektor kunci di Indonesia.

Director of Institutional Banking Group PT Bank DBS Indonesia, Anthonius Sehonamin, menjelaskan bahwa dunia usaha saat ini memerlukan perspektif yang tajam untuk menentukan prioritas di tengah ketidakpastian. Menurutnya, setiap sektor industri memiliki karakteristik tantangan dan dinamika transisi yang berbeda-beda.
"Kami berupaya membantu dunia usaha agar lebih memahami peluang yang ada, mengantisipasi risiko yang mungkin muncul, serta mengambil langkah strategis yang tepat demi pertumbuhan jangka panjang," ungkap Anthonius.
Dalam laporannya, Bank DBS Indonesia mengidentifikasi lima sektor strategis yang akan menjadi motor penggerak ekonomi melalui pendekatan keberlanjutan. Pertama, di sektor energi, fokus utama kini beralih ke arah elektrifikasi. Lonjakan kebutuhan listrik yang dipicu oleh kendaraan listrik, pusat data (data center), teknologi AI, hingga hilirisasi industri membuka peluang besar pada pengembangan energi terbarukan, sistem penyimpanan energi baterai (BESS), serta modernisasi jaringan transmisi listrik.
Kedua, pada sektor teknologi, pertumbuhan ekonomi digital menuntut infrastruktur yang lebih canggih dan ramah lingkungan, seperti green data center dan infrastruktur pendukung AI. Ketiga, sektor kesehatan melihat peluang pada penguatan rantai pasok farmasi dan peningkatan akses layanan medis berkualitas.
Keempat, di sektor agribisnis, tren bergeser dari sekadar ekspansi lahan menuju peningkatan produktivitas melalui teknologi pertanian, sistem ketertelusuran (traceability), dan efisiensi rantai pasok dingin (cold chain). Terakhir, pada sektor logam dan pertambangan, peluang besar terletak pada penciptaan nilai tambah, seperti pengembangan komponen baterai dan produksi logam rendah karbon yang memenuhi standar global.
Meski peluang terbuka lebar, laporan tersebut mengingatkan bahwa tantangan nyata justru terletak pada eksekusi. Kendala seperti kesiapan proyek, kompleksitas struktur pembiayaan, hingga ketidakpastian regulasi sering kali menjadi penghambat. Oleh karena itu, kemampuan untuk mengubah peluang menjadi proyek yang layak secara komersial menjadi kunci utama bagi para pelaku industri di Indonesia.


