faktual.news – Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto memberikan isyarat mengenai kemungkinan penyesuaian harga bahan bakar minyak (BBM) di Indonesia. Pernyataan ini muncul menyusul kabar dibukanya kembali Selat Hormuz, jalur pelayaran krusial bagi pasokan minyak dunia, setelah tercapainya kesepakatan damai antara Amerika Serikat dan Iran.
Airlangga menjelaskan bahwa pemerintah saat ini menaruh harapan besar pada implementasi penuh perjanjian perdamaian tersebut. "Dengan terbukanya kembali Selat Hormuz, kita akan melihat bagaimana harga BBM merespons situasi baru ini," ujar Airlangga di Istana Kepresidenan Jakarta, Kamis (18/6), mengindikasikan bahwa perubahan harga BBM akan menjadi perhatian utama.

Meskipun demikian, pemerintah tidak akan terburu-buru dalam mengambil keputusan. Airlangga menegaskan bahwa pemantauan ketat terhadap pelaksanaan perjanjian damai akan terus dilakukan. Saat ditanya lebih lanjut mengenai potensi penurunan harga BBM non-subsidi, Airlangga masih enggan berkomentar banyak. "Kita lihat saja bagaimana perkembangannya nanti," jawabnya singkat, menunjukkan kehati-hatian pemerintah dalam menyikapi dinamika pasar.
Kesepakatan bersejarah ini sendiri mengakhiri ketegangan yang memanas antara AS dan Iran sejak beberapa waktu lalu, dipicu oleh operasi militer gabungan AS-Israel terhadap Iran. Kini, kedua negara telah meneken nota kesepahaman secara digital, yang menjadi fondasi bagi perjanjian damai final.
Berdasarkan dokumen kesepakatan awal tersebut, AS dan Iran berkomitmen untuk merumuskan perjanjian final dalam kurun waktu 60 hari. Selama periode krusial ini, Selat Hormuz akan dibuka tanpa hambatan, dan pasukan AS akan ditarik dari wilayah sekitar Iran.
Presiden Iran, Masoud Pezeshkian, menyambut baik MoU ini sebagai tonggak sejarah perdamaian. "Ini adalah dokumen bersejarah dan pesan kuat dari Iran: perdamaian akan terwujud di bawah naungan rasa saling menghormati," tulis Pezeshkian melalui akun X-nya, Kamis (18/6). Ia turut mengunggah teks MoU yang telah dibubuhi tanda tangan dirinya dan Presiden AS Donald Trump.
Nota kesepahaman tersebut memuat 14 poin penting, di antaranya adalah komitmen untuk mengakhiri konflik di semua lini, termasuk Lebanon, pencabutan blokade serta sanksi terhadap Iran, dan janji kompensasi bagi Iran atas kerugian yang diderita selama masa konflik. Perkembangan geopolitik ini diharapkan membawa dampak positif pada stabilitas pasar energi global, termasuk harga BBM di Tanah Air.


