IHSG Menggila di Awal 2026? Ini Prediksi & Saham Pilihan!
Faktual News – Pasar modal Indonesia bersiap menyambut tahun 2026 dengan optimisme yang membara. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) akan memulai perdagangan perdananya pada Jumat, 2 Januari 2026, dalam sebuah seremoni pembukaan yang prestisius. Kehadiran langsung Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, bersama jajaran elite ekonomi seperti Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa, dan Ketua Dewan Komisioner OJK Mahendra Siregar, menjadi sinyal kuat akan perhatian pemerintah terhadap stabilitas dan pertumbuhan pasar modal. Sederet sentimen positif, baik dari sisi teknikal maupun fundamental, diprediksi akan menjadi amunisi utama bagi IHSG untuk melaju kencang di awal tahun.
Setelah menutup tahun 2025 dengan penguatan tipis 0,03 persen di level 8.646,94 pada 30 Desember, IHSG kini memiliki momentum untuk melanjutkan tren positifnya. Analisis teknikal dari Phintraco Sekuritas mengindikasikan bahwa indeks berpotensi melanjutkan penguatan, bahkan menguji level resistensi krusial di rentang 8.680-8.725. "Pergerakan IHSG diperkirakan akan melanjutkan momentum positifnya, didukung oleh sentimen domestik yang kondusif," ujar tim riset Phintraco Sekuritas dalam laporannya yang diterima Faktual News di Jakarta, Jumat (2/1/2026). Meskipun sempat tertekan oleh koreksi saham-saham berkapitalisasi besar seperti BBRI dan ADRO akibat ex-date dividen, serta penurunan harga emas global, pasar tampak siap untuk rebound.
Katalis penguatan IHSG tidak hanya datang dari analisis teknikal, tetapi juga dari data ekonomi makro yang menjanjikan. Nilai tukar rupiah, misalnya, menunjukkan performa solid dengan menguat ke Rp16.771 per dolar AS pada penutupan 30 Desember 2025, sejalan dengan tren penguatan mata uang regional Asia. Selain itu, investor akan mencermati rilis data ekonomi domestik yang dijadwalkan hari ini. Indeks S&P Global Manufacturing PMI Desember diperkirakan sedikit membaik menjadi 53,6 dari 53,3 pada bulan sebelumnya, menandakan ekspansi sektor manufaktur yang berlanjut. Neraca perdagangan November 2025 juga diproyeksikan mencatat surplus yang lebih besar, mencapai USD2,7 miliar, naik dari USD2,4 miliar di Oktober. Sementara itu, inflasi Desember 2025 diestimasi melambat menjadi 2,5 persen year-on-year (yoy), dari 2,72 persen yoy di November, memberikan ruang bagi kebijakan moneter yang akomodatif.
Menyikapi potensi penguatan ini, Phintraco Sekuritas merekomendasikan sejumlah saham pilihan yang patut dicermati investor. Di antaranya adalah saham perbankan raksasa seperti PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) dan PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI), serta saham properti PT Pantai Indah Kapuk Dua Tbk (PANI). Selain itu, PT Jasa Marga (Persero) Tbk (JSMR) dan PT Astra International Tbk (ASII) juga masuk dalam daftar rekomendasi, menawarkan potensi keuntungan di tengah optimisme pasar. Investor diharapkan dapat memanfaatkan momentum awal tahun ini dengan strategi yang cermat.
