faktual.news – Warga Surabaya dan sekitarnya dibuat resah dengan pemadaman listrik bergilir yang berlangsung selama tiga hari berturut-turut, mulai Rabu hingga Jumat. Gangguan pasokan daya ini tidak hanya merambah kawasan permukiman padat seperti Simo Kwagean, Kebraon, dan Rungkut Mejoyo Selatan, tetapi juga meluas hingga ke Sidoarjo dan Gresik, memicu kekacauan di berbagai sektor.
PT PLN Unit Induk Distribusi (UID) Jawa Timur akhirnya angkat bicara mengenai insiden ini. Manager Komunikasi dan TJSL PLN UID Jawa Timur, Dana, menjelaskan bahwa akar masalahnya adalah kendala teknis pada salah satu pembangkit listrik. Situasi ini menyebabkan penurunan signifikan kapasitas suplai daya ke wilayah-wilayah terdampak.

"PLN mengerahkan segala sumber daya untuk menjaga keandalan sistem kelistrikan. Kami menghadapi masalah operasional pada pembangkit yang mengakibatkan berkurangnya pasokan listrik," terang Dana dalam pernyataan resminya.
Sebagai langkah responsif, PLN memberlakukan skema manajemen beban. Kebijakan ini diambil untuk menstabilkan sistem kelistrikan secara keseluruhan dan mencegah dampak yang lebih luas. "Untuk menjaga stabilitas, kami melakukan manajemen beban terbatas di area terdampak sambil berupaya mempercepat pemulihan kondisi operasional pembangkit," imbuhnya. Sayangnya, PLN belum merinci pembangkit mana yang mengalami gangguan atau perkiraan waktu pasti pemulihan. Koordinasi lintas pihak masih terus dilakukan untuk penanganan optimal.
Dampak pemadaman listrik ini sungguh terasa di Surabaya. Lalu lintas kota sempat lumpuh akibat matinya sejumlah lampu pengatur lalu lintas. Bahkan, dua palang pintu perlintasan kereta api otomatis di JPL 1 Mayangkara dan JPL 17 Jagir sempat tidak berfungsi pada Kamis.
Manajer Humas KAI Daop 8 Surabaya, Mahendro Trang Bawono, segera mengambil tindakan antisipatif. Pihaknya menambah personel pengamanan dan memasang rambu STOP manual di lokasi terdampak. "Kami mengimbau pengguna jalan untuk tetap waspada dan mendahulukan perjalanan kereta api," tegas Mahendro.
Dinas Perhubungan (Dishub) Surabaya juga dibuat kewalahan. Abi Dwi Septianto, Petugas Penyediaan Perlengkapan Jalan (PPJ) Dishub Surabaya, mengakui bahwa tujuh titik simpang lampu lalu lintas padam bersamaan pada Jumat. "Kami hanya bisa mengoperasikan tiga titik dengan genset karena keterbatasan personel dan unit genset. Pemadaman serentak ini sangat menyulitkan," keluhnya.
Salah satu titik terparah adalah perempatan Jalan Kenjeran yang menghubungkan Jalan Putro Agung dan Jalan Kedung Cowek. Ali Topan, warga Bulak Rukem, menceritakan pengalamannya terjebak macet parah sejak pukul 14.00 WIB. "Antrean kendaraan mengular. Saya kira macet biasa, ternyata lampu lalu lintas mati total, membuat arus semrawut," pungkasnya.


