faktual.news – Kabar gembira datang dari Timur Tengah, menyusul kesepakatan damai antara Amerika Serikat dan Iran. Perjanjian bersejarah ini membawa angin segar bagi PT Pertamina (Persero), terutama terkait nasib dua kapal tanker miliknya yang sempat terombang-ambing di Selat Hormuz.
Dua armada raksasa milik PT Pertamina International Shipping (PIS), yakni Pertamina Pride dan Gamsunoro, kini menjadi sorotan utama setelah ketegangan di jalur pelayaran strategis dunia itu mereda.

Muhammad Baron, Vice President Corporate Communication Pertamina, menyatakan apresiasinya atas terwujudnya kesepakatan damai tersebut. "Kami sangat menyambut baik setiap langkah yang mendorong stabilitas dan perdamaian di kawasan Timur Tengah," ujar Baron. Ia menambahkan, pembukaan kembali Selat Hormuz sebagai urat nadi distribusi energi global merupakan kabar yang sangat positif bagi dunia.
Melalui anak usahanya, PIS, Pertamina terus memantau ketat dinamika keamanan di wilayah tersebut. Koordinasi intensif juga dijalin dengan Kementerian Luar Negeri, Kedutaan Besar Republik Indonesia, otoritas lokal, serta mitra internasional, demi menjamin keselamatan kru dan kelancaran operasional seluruh armada.
Baron menegaskan, kedua kapal PIS saat ini berada dalam kondisi aman di perairan Teluk Arab, jauh dari potensi ancaman.
Mengenai rencana pelayaran melintasi Selat Hormuz, keputusan akan diambil setelah melalui kajian risiko terbaru dan rekomendasi dari pihak berwenang. Pertamina menegaskan, prioritas utama adalah keselamatan para awak kapal dan keamanan aset perusahaan dalam setiap langkah operasional.
Kesepakatan damai yang menjadi landasan perjanjian permanen ini ditandatangani pada Rabu (17/6). Presiden AS Donald Trump membubuhkan tanda tangannya di Prancis, sementara Presiden Iran Masoud Pezeshkian melakukannya di tanah airnya, Iran.
Nota kesepahaman yang terdiri dari 14 poin krusial ini mencakup janji untuk menghentikan seluruh konflik bersenjata, termasuk di wilayah Lebanon yang sempat menjadi medan pertempuran sengit. Sejak pecahnya konflik antara AS-Israel melawan Iran, Lebanon selatan kerap menjadi sasaran akibat keterlibatan milisi Hizbullah. Meskipun gencatan senjata telah disepakati April lalu, serangan Israel masih terus berlanjut di Lebanon.
Poin penting lainnya adalah kesepakatan pembukaan kembali Selat Hormuz, yang sebelumnya ditutup oleh Teheran pasca-serangan pada 28 Februari. Proses pembukaan akan diawali dengan pembersihan ranjau selama 30 hari, diikuti dengan jaminan jalur pelayaran yang aman dan bebas biaya bagi kapal-kapal niaga.
Selain itu, Washington berjanji akan mencabut blokade angkatan lautnya terhadap Teheran. Pasukan Amerika Serikat juga dijadwalkan akan menarik diri dari wilayah sekitar Iran dalam kurun waktu 30 hari setelah penandatanganan perjanjian final.


