Faktual.news – Gejolak di pasar modal Indonesia kini tengah menjadi sorotan tajam setelah muncul peringatan keras mengenai potensi pelemahan nilai tukar rupiah yang sangat drastis. Ketua Dewan Penasihat Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia, Hashim Djojohadikusumo, melontarkan kekhawatiran bahwa rupiah bisa merosot hingga menyentuh level Rp21.000 hingga Rp22.000 per dolar AS.
Prediksi yang cukup mengejutkan ini bukan tanpa alasan. Hashim menyoroti risiko penurunan kelas pasar modal Indonesia oleh Morgan Stanley Capital International (MSCI). Jika MSCI benar-benar mereklasifikasi status pasar modal Indonesia dari pasar berkembang (emerging market) menjadi pasar mandiri (standalone market), hal ini diprediksi akan memicu aksi jual besar-besaran oleh investor asing.

Lebih lanjut, Hashim mengaitkan ancaman ini dengan isu integritas pasar, khususnya maraknya praktik manipulasi harga atau yang akrab disebut sebagai "saham gorengan". Menurutnya, jika kepercayaan investor global runtuh akibat tata kelola pasar yang buruk, aliran modal keluar (capital outflow) akan menghantam rupiah dengan sangat keras.
"Ini masalah yang sangat serius. Jika investasi luar negeri keluar dari bursa saham kita, rupiah bisa semakin lemah. Saya sudah hitung, bisa mencapai Rp20 ribu, Rp21 ribu, bahkan ada yang menyebut Rp22 ribu," tegas Hashim dalam sebuah pertemuan pengusaha di Jakarta.
Menanggapi skenario ekstrem tersebut, Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan INDEF, Rizal Taufikurahman, menyebut angka tersebut sebagai gambaran tekanan ekonomi yang sangat berat. Berdasarkan data terbaru, untuk mencapai level Rp21.000, rupiah harus mengalami depresiasi sekitar 15 hingga 21 persen terhadap dolar AS.
Rizal menekankan bahwa risiko ini akan menjadi bola salju jika sentimen negatif di pasar saham merembet ke pasar obligasi (SBN). Ia mendesak otoritas terkait seperti OJK dan Bank Indonesia untuk melakukan langkah nyata, bukan sekadar retorika. "Penegakan hukum di pasar modal harus konsisten agar kepercayaan investor kembali pulih," ujarnya.
Senada dengan hal tersebut, Kepala Ekonom Bank Permata, Josua Pardede, memberikan perspektif yang lebih moderat namun tetap waspada. Ia menilai proyeksi Rp21.000 adalah skenario risiko ekstrem, bukan proyeksi utama. Menurut Josua, pelemahan sedalam itu membutuhkan guncangan yang jauh lebih luas daripada sekadar isu MSCI, seperti lonjakan harga minyak dunia atau krisis geopolitik yang masif.
Namun, Josua mengingatkan adanya bahaya penularan (contagion effect). Jika investor asing menjual saham mereka lalu mengonversinya ke dolar AS, permintaan valas akan melonjak dan menekan rupiah. Kondisi ini bisa diperparah jika pelaku usaha domestik ikut melakukan aksi borong dolar karena panik.
Ia juga meluruskan bahwa keputusan final MSCI terkait status pasar Indonesia baru dijadwalkan pada Juni 2027, sehingga publik tidak perlu panik secara berlebihan. Meski demikian, ia mendesak OJK dan Bursa Efek Indonesia (BEI) untuk segera membenahi transparansi pasar, termasuk mendeteksi transaksi terkoordinasi yang merusak harga, demi menjaga stabilitas ekonomi nasional.


