Faktual.news – Kenaikan harga bahan baku pokok, khususnya tepung, mulai menjadi momok menakutkan bagi para pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM). Kondisi ini memicu kekhawatiran akan menurunnya margin keuntungan para pedagang kecil yang menggantungkan hidupnya pada makanan berbahan dasar tepung. Menanggapi situasi tersebut, Menteri Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM), Maman Abdurrahman, menegaskan pentingnya stabilitas harga di pasar agar tidak memberatkan para pengusaha mikro.
Maman menekankan bahwa fokus utama pemerintah bukan sekadar menekan harga agar menjadi murah, melainkan memastikan harga tetap terkendali dan selaras dengan kemampuan daya beli serta kebutuhan operasional pelaku UMKM. Menurutnya, fluktuasi harga yang tidak menentu dapat mengganggu keberlangsungan usaha masyarakat kecil.

"Kami sangat berharap harga di pasaran dapat terus terkendali. Fokus kami bukan pada besar atau kecilnya angka, tetapi bagaimana harga tersebut tetap stabil dan sesuai dengan kebutuhan teman-teman pengusaha mikro di lapangan," ujar Maman saat memberikan keterangan di kantor Kementerian UMKM, Jakarta Selatan, Selasa (3/11).
Sebagai langkah antisipasi, Maman menyatakan bahwa pihaknya telah menyiapkan skema koordinasi lintas kementerian. Jika ditemukan indikasi lonjakan harga yang signifikan, Kementerian UMKM akan segera berkomunikasi dengan Kementerian Perdagangan untuk melakukan intervensi melalui operasi pasar. Langkah ini diharapkan dapat menstabilkan pasokan dan harga di tingkat pengecer.
Keresahan para pelaku usaha ini bukanlah tanpa alasan. Di lapangan, tren kenaikan harga tepung memang tengah terjadi. Berdasarkan pantauan di kawasan Gatot Subroto, Jakarta Selatan, seorang pedagang makanan ringan berbahan dasar kentang dan otak-otak mengeluhkan kenaikan harga tepung yang cukup terasa. Harga tepung per kilogram dilaporkan melonjak dari Rp15.000 menjadi Rp20.000 dalam beberapa pekan terakhir.
Kondisi serupa juga dialami oleh pedagang di kawasan Mampang, Jakarta Selatan. Pemilik usaha Cilor Al Sakti mengungkapkan bahwa harga tepung tapioka yang menjadi bahan baku utamanya kini menyentuh angka Rp16.000 per kilogram, naik dari harga sebelumnya yang hanya Rp14.000.
Demi menjaga loyalitas pelanggan, para pedagang ini memilih untuk tidak mengurangi porsi makanan yang mereka jual. Namun, strategi ini menjadi pisau bermata dua. Meski pelanggan tetap datang, para pedagang harus rela "menelan pil pahit" karena keuntungan atau laba bersih yang mereka peroleh menyusut drastis akibat kenaikan biaya produksi.
Hal senada disampaikan oleh Nano, seorang pedagang Takoyaki. Ia mengaku tetap mempertahankan harga jual Rp10.000 untuk satu porsi berisi delapan buah takoyaki, meskipun harga tepung terigu terus merangkak naik. Menurut Nano, menjaga harga dan porsi adalah kunci agar pelanggan tidak beralih ke tempat lain, walaupun ia harus menanggung beban biaya bahan baku yang semakin tinggi.


