Faktual.news – PT Bayan Resources Tbk (BYAN) akhirnya angkat bicara terkait dinamika besar yang tengah menyelimuti struktur kepemilikan saham perusahaan. Langkah strategis yang diambil oleh PT Jhonlin Baratama, perusahaan yang terafiliasi dengan konglomerat ternama Andi Syamsuddin Arsyad atau yang akrab disapa Haji Isam, telah memicu perhatian luas di pasar modal. Melalui kesepakatan terbaru, Jhonlin Baratama resmi menandatangani perjanjian untuk memboyong 30 persen saham perseroan.
Menanggapi permintaan klarifikasi dari Bursa Efek Indonesia (BEI) pada akhir September 2026, manajemen Bayan Resources menegaskan bahwa seluruh kegiatan operasional perusahaan beserta entitas anak-anaknya tetap berjalan normal tanpa gangguan berarti. Perusahaan milik taipan Low Tuck Kwong ini memastikan bahwa perubahan struktur kepemilikan tersebut tidak akan mengganggu stabilitas bisnis yang sedang berjalan.

Dalam keterangannya, manajemen Bayan menjelaskan bahwa kinerja keuangan perusahaan hingga periode pelaporan terakhir masih sangat bergantung pada aktivitas bisnis inti, yakni produksi dan penjualan batu bara. Faktor-faktor seperti volume produksi, harga jual rata-rata batu bara di pasar global, biaya logistik, hingga biaya operasional tetap menjadi variabel utama yang menentukan kesehatan finansial perseroan. Meski ada pergeseran kepemilikan, Bayan berkomitmen untuk terus menjaga likuiditas serta mengelola aset dan kewajiban secara prudent guna mendukung keberlanjutan usaha.
Sebelumnya, sempat muncul kekhawatiran mengenai operasional tambang menyusul adanya kendala administratif terkait persetujuan Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) tahun 2026. Tiga anak usaha Bayan, yakni PT Tiwa Abadi, PT Tanur Jaya, dan PT Fajar Sakti Prima, sempat mengalami penghentian sementara. Namun, kabar baik datang setelah Kementerian ESDM memberikan persetujuan atas perubahan RKAB 2026 bagi ketiga perusahaan tersebut.
Dengan kembalinya izin operasional, Bayan menyatakan tidak melihat adanya dampak material yang bersifat jangka panjang terhadap kinerja keuangan mereka. Bahkan, terdapat kabar mengenai potensi peningkatan kuota produksi hingga mencapai angka 20 juta ton. Manajemen menegaskan bahwa tambahan kuota ini merupakan hasil evaluasi resmi dari Kementerian ESDM atas pengajuan perubahan RKAB, dan menegaskan bahwa proses kuota ini sama sekali tidak memiliki kaitan dengan transaksi saham dengan PT Jhonlin Baratama.
Terkait detail transaksi, PT Jhonlin Baratama akan mengambil alih sekitar 10 miliar lembar saham atau setara dengan 30 persen kepemilikan. Meski terjadi perubahan komposisi, Low Tuck Kwong dipastikan tetap memegang kendali utama sebagai pemegang saham pengendali. Pasca-transaksi, Low Tuck Kwong akan memiliki sekitar 20,85 persen saham, sementara Elaine Low akan menguasai sekitar 11,39 persen saham di perusahaan tambang raksasa ini. Langkah ini dipandang sebagai bagian dari restrukturisasi strategis untuk memperkuat posisi Bayan di industri energi nasional.


