faktual.news – PT Freeport Indonesia (PTFI) kembali mengukir sejarah dengan mengumumkan kepastian beroperasinya kembali smelter Manyar di Gresik Jawa Timur. Fasilitas pengolahan tembaga raksasa ini dijadwalkan mulai memproduksi katoda tembaga pada bulan September 2026. Kabar ini disambut antusias sebagai tonggak penting bagi industri hilirisasi mineral nasional.
Presiden Direktur PTFI Tony Wenas menegaskan bahwa jadwal operasional ini berjalan sesuai rencana yang telah ditetapkan. "Smelter Manyar akan memulai produksi katoda tembaga pada September nanti sesuai jadwal yang kami targetkan," ungkap Tony dalam sebuah kesempatan di Jakarta baru-baru ini. Pernyataan tersebut sekaligus menepis keraguan setelah serangkaian tantangan yang sempat melanda proyek strategis ini.

Saat ini, pasokan konsentrat tembaga sebagai bahan baku utama telah mulai dikirimkan secara bertahap dari Papua menuju kompleks industri Java Integrated Industrial and Port Estate (JIIPE) di Gresik. Material vital ini akan dikumpulkan hingga mencapai volume yang memadai sebelum dimasukkan ke dalam tungku peleburan.
Tony menjelaskan, proses pengoperasian smelter tidak akan langsung berjalan dengan kapasitas penuh. Pada tahap awal, fasilitas ini akan beroperasi di bawah 30 persen dari total kapasitasnya. Peningkatan volume produksi akan dilakukan secara progresif hingga mencapai target 100 persen pada akhir tahun 2027.
Smelter Manyar merupakan salah satu investasi hilirisasi mineral terbesar di Indonesia yang digarap oleh pihak swasta. Proyek ambisius ini menelan biaya sekitar US$3,7 miliar atau setara dengan Rp58 triliun. Dengan kapasitas pengolahan hingga 1,7 juta ton konsentrat tembaga per tahun, smelter ini juga dilengkapi fasilitas Precious Metal Refinery (PMR) berkapasitas 6.000 ton per tahun yang mampu mengekstraksi emas, perak, dan mineral berharga lainnya.
Perjalanan smelter ini tidak selalu mulus. Sebelumnya, operasional sempat terhambat akibat insiden kebakaran di unit Gas Cleaning Plant pada Oktober 2024. Setelah perbaikan rampung, smelter sempat kembali beraktivitas pada Mei 2025. Namun, musibah kembali terjadi pada September 2025 berupa longsor di area tambang Grasberg Block Cave (GBC) yang mengakibatkan terputusnya pasokan konsentrat. Kondisi ini memaksa smelter untuk hanya mengolah sisa konsentrat di gudang sebelum akhirnya menghentikan seluruh aktivitasnya secara penuh sejak Desember 2025. Kini, dengan kepastian operasional kembali, smelter Manyar siap kembali berkontribusi besar bagi perekonomian Indonesia.


