faktual.news – Pemerintah Indonesia secara serius tengah membuka pintu kerja sama dengan investor dari China dan Rusia untuk merealisasikan proyek ambisius Trans Kalimantan Railway. Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi mengonfirmasi bahwa penjajakan awal telah dilakukan, menandai langkah signifikan dalam pengembangan infrastruktur perkeretaapian di pulau Borneo.
Dudy menjelaskan, inisiatif pembangunan jaringan kereta api ini bukan sekadar wacana. Pihaknya telah berkoordinasi erat dengan PT Kereta Api Indonesia KAI untuk menyusun peta jalan strategis yang komprehensif. Rencana ini mencakup pengembangan Trans Sumatra dan Trans Kalimantan. "Jika Trans Sumatra sebagian jalurnya sudah tersedia dan tinggal menyambungkan, Trans Kalimantan justru harus kita mulai dari awal," terang Dudy di Istana Kepresidenan Jakarta beberapa waktu lalu.

Wacana pengembangan jaringan kereta api di pulau-pulau besar ini sebelumnya juga digaungkan oleh Prabowo. Ia menekankan bahwa kereta api merupakan tulang punggung logistik yang efisien dan terjangkau, serta membawa manfaat besar bagi masyarakat berpenghasilan rendah. Menurutnya, di banyak negara, kereta api dipandang sebagai layanan publik esensial, bukan sekadar entitas pencari profit, dan menjadi motor penggerak ekonomi rakyat.
Meskipun demikian, Dudy mengungkapkan bahwa detail angka investasi belum terhitung secara pasti. Pemerintah masih akan meninjau proposal dan perhitungan bisnis yang diajukan para calon investor. Proyek ini dipastikan akan melibatkan KAI, yang merupakan bagian dari ekosistem BPI Danantara.
"Terlihat minat investor berbeda. Untuk logistik di Sumatra, KAI tampaknya lebih condong untuk mengembangkannya. Namun, untuk Kalimantan, investor dari China dan Rusia menunjukkan ketertarikan yang lebih besar," imbuh Dudy. Proyek ini diharapkan mampu mengubah lanskap transportasi dan ekonomi di Kalimantan, membuka potensi baru bagi pertumbuhan wilayah tersebut.


