faktual.news – Di tengah hiruk pikuk kota, jari-jemari Siti Masruroh lincah menari di atas layar gawainya. Dengan cekatan, petugas Sensus Ekonomi 2026 ini memastikan setiap jawaban yang terucap dari seorang wanita berkerudung merah muda di hadapannya. Perlahan, rentetan digit itu mulai merangkai mozaik besar gambaran ekonomi nusantara, melampaui sekadar angka di lembar survei.
Wanita yang akrab disapa Ayu itu telah duduk selama sekitar sepuluh menit, menjawab pertanyaan demi pertanyaan dengan santai. Sesekali, selipan gurauan darinya mencairkan suasana pendataan yang kerap dianggap serius. "Ibu, ada usahanya?" tanya Siti. "Iya," jawab Ayu. "Pendapatan kotor per hari?" "Rp130 ribu. Bikinnya cuma dikit. Kalau dibanyakin, enggak ada yang beli. Buang-buang modal. Jadi kita bikin dikit-dikit aja, yang penting lancar," ujarnya diselingi tawa. Siti dan rekannya pun ikut tersenyum.

Terik matahari di Pegangsaan Dua Kelapa Gading Jakarta Utara siang itu cukup membakar. Namun di rumah Ayu, suasana justru terasa hangat dan penuh canda. Percakapan berlanjut ke modal usaha. "Modalnya 100 persen pribadi atau pinjam koperasi KUR?" Siti bertanya. "Enggak ada," jawab Ayu lugas. "100 persen modal sendiri?" "Iya." Siti kembali mencatat. Tak lama, Ayu menambahkan, "Modal dari bapak (suaminya Ayu) sih dikasih," yang sontak memecah tawa Siti. Momen-momen sederhana ini menjadi cerminan dari beragam kisah yang ditemui para petugas sensus di lapangan.
Bagi Siti, tugas Sensus Ekonomi 2026 jauh melampaui sekadar mengisi data digital. Setiap rumah yang ia kunjungi membawa cerita unik. Ada warga yang menjawab singkat, namun tak sedikit pula yang justru membuka diri untuk percakapan lebih panjang. "Kalau di perkampungan, kebanyakan nenek-nenek yang sudah tidak bekerja. Jadi kita sering mendengarkan curhat mereka," ungkap Siti. Ia menambahkan, waktu terbanyak justru tersita bukan untuk pengisian data, melainkan untuk mendengarkan kisah, kesedihan, dan tawa warga yang lebih terbuka.
Kepala Badan Pusat Statistik BPS Kota Jakarta Utara Theresia Parwati, menjelaskan bahwa Sensus Ekonomi adalah upaya komprehensif untuk menggambarkan lanskap ekonomi Indonesia. "Tujuannya untuk memetakan kondisi ekonomi terkini dan merumuskan rencana serta intervensi ekonomi yang tepat di masa depan," jelas Theresia. Digelar setiap sepuluh tahun sekali, sensus tahun ini menjadi krusial mengingat perubahan masif yang terjadi sejak sensus 2016, terutama akibat lonjakan transformasi digital pasca pandemi Covid-19.
Pandemi telah mendorong percepatan adopsi teknologi digital di berbagai sektor. Kegiatan ekonomi yang dulunya terikat pada lokasi fisik, kini banyak beralih ke ranah daring melalui perangkat pintar. Theresia mencontohkan, banyak toko fisik di pusat perdagangan besar seperti Pasar Pagi Mangga Dua dan ITC mungkin tidak lagi beroperasi, namun bukan berarti aktivitas ekonomi berhenti. Justru, kini muncul beragam model bisnis digital seperti penjualan melalui marketplace, media sosial, hingga aplikasi perpesanan seperti WhatsApp Instagram dan TikTok.
Seluruh aktivitas ekonomi digital ini, dari usaha keluarga skala kecil UMKM, hingga korporasi raksasa, menjadi bagian integral yang ingin dipotret melalui Sensus Ekonomi 2026. Di Jakarta Utara, pendataan dilakukan secara menyeluruh, menyisir setiap RT dan RW. Petugas seperti Siti harus berkoordinasi dengan pengurus RW dan RT setempat sebelum memulai tugasnya mendata sekitar 700 rumah di wilayah padat penduduk. Ini adalah gambaran nyata dari kerja keras di balik setiap angka yang membentuk potret ekonomi bangsa.


