faktual.news – Mata uang kebanggaan Indonesia, rupiah, kembali menunjukkan pelemahan di hadapan dolar Amerika Serikat pada perdagangan Rabu (16/9) sore. Kurs rupiah tercatat berada di level Rp17.696 per dolar AS, terkoreksi tipis 2 poin atau setara 0,01 persen dibandingkan penutupan sesi sebelumnya.
Pergerakan mata uang di kawasan Asia terpantau beragam. Beberapa mata uang berhasil menguat terhadap dolar AS, seperti yuan China yang naik 0,07 persen, peso Filipina menguat 0,16 persen, dolar Hong Kong naik 0,01 persen, dan ringgit Malaysia terapresiasi 0,22 persen. Namun, tidak semua bernasib sama. Dolar Singapura justru melemah 0,02 persen, yen Jepang turun 0,03 persen, dan won Korea Selatan terdepresiasi 0,29 persen.

Situasi serupa juga melanda mata uang utama negara-negara maju. Euro Eropa dan franc Swiss berhasil menguat masing-masing 0,02 persen dan 0,01 persen. Sebaliknya, poundsterling Inggris, dolar Australia, dan dolar Kanada harus menerima kenyataan terkoreksi, masing-masing melemah 0,07 persen, 0,09 persen, dan 0,09 persen.
Menurut pengamat pasar valuta asing dari DOO Financial Futures, Lukman Leong, pelemahan tipis rupiah ini terjadi di tengah fenomena koreksi pada indeks dolar AS, imbal hasil obligasi AS, serta harga minyak mentah global. "Rupiah ditutup melemah tipis meskipun ada penurunan atau koreksi pada indeks dolar AS, imbal hasil obligasi AS, dan harga minyak mentah dunia," jelas Lukman pada Rabu (16/9).
Lukman menambahkan, para investor saat ini cenderung bersikap menunggu dan melihat (wait and see). Fokus utama mereka tertuju pada hasil rapat Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) yang dijadwalkan malam nanti. Pasar memperkirakan FOMC akan mengumumkan kenaikan suku bunga untuk pertama kalinya sejak Juli 2023. "Investor terutama mencari isyarat dari The Fed terkait prospek kebijakan suku bunga ke depannya," pungkas Lukman, menggarisbawahi pentingnya sinyal dari bank sentral AS bagi arah pasar global.


