Faktual.news – PT Industri Kereta Api (Persero) atau INKA kini tengah berada di persimpangan jalan yang krusial. Perusahaan manufaktur kereta api kebanggaan Indonesia ini tengah dipersiapkan untuk melebur ke dalam naungan PT Kereta Api Indonesia (Persero) atau KAI. Langkah konsolidasi besar-besaran di sektor Badan Usaha Milik Negara (BUMN) perkeretaapian ini diambil sebagai upaya penyelamatan sekaligus transformasi industri transportasi nasional.
Kepala Badan Pengaturan (BP) BUMN, Dony Oskaria, mengungkapkan bahwa proses penggabungan ini ditargetkan rampung sebelum Januari 2027. Langkah ini bukan tanpa alasan, mengingat kondisi finansial INKA yang saat ini sedang tidak sehat. Perusahaan tersebut dilaporkan tengah bergelut dengan masalah keuangan yang serius, di mana ekuitas perusahaan berada dalam posisi negatif.

Lebih memprihatinkan lagi, INKA tercatat memiliki beban pinjaman yang dinilai tidak berkelanjutan (unsustainable loan) dengan nilai mencapai Rp4,7 triliun. Kondisi ini menjadi alasan kuat mengapa pemerintah merasa perlu melakukan intervensi melalui skema konsolidasi agar INKA dapat kembali berdiri tegak sebagai penyedia sarana transportasi publik yang handal.
"Kami sedang melakukan perbaikan, termasuk rencana penambahan modal. INKA memiliki masalah keuangan, ekuitasnya negatif, dan ada pinjaman tidak berkelanjutan sebesar Rp4,7 triliun. Kita harus membenahinya agar ke depannya mereka bisa menjadi industri transportasi publik kita," ujar Dony saat memberikan keterangan di Jakarta.
Senada dengan hal tersebut, Direktur Utama KAI, Bobby Rasyidin, menjelaskan bahwa integrasi ini akan menyatukan kekuatan dua raksasa perkeretaapian. KAI yang memiliki keunggulan dalam aspek rekayasa melalui Balai Yasa akan bersinergi dengan kemampuan manufaktur yang dimiliki oleh INKA.
Bobby menyebutkan bahwa proses integrasi ini akan melalui tahapan due diligence yang ketat. Rencananya, akta inbreng atau pengalihan aset akan dilakukan pada September 2026 dengan skema bersyarat, sebelum akhirnya integrasi penuh berjalan pada 1 Januari 2027.
Salah satu tujuan utama dari penggabungan ini adalah untuk mendongkrak kapasitas produksi INKA yang saat ini dinilai masih belum mencukupi kebutuhan nasional. Sebagai gambaran, produksi KRL di pabrik INKA saat ini baru mampu mencapai sekitar tiga rangkaian per tahun. Dengan integrasi ini, fasilitas KAI di wilayah Sumatra Selatan dan Lampung juga akan dioptimalkan untuk mendukung proses produksi.
Selain itu, KAI berencana melakukan efisiensi logistik yang signifikan. Selama ini, produksi gerbong datar untuk angkutan batu bara di Sumatra Selatan masih terpecah antara Banyuwangi dan Madiun, yang menyebabkan biaya logistik membengkak. Melalui integrasi, alur produksi dan distribusi diharapkan menjadi lebih ramping dan murah.
Meski penguatan industri lokal menjadi prioritas utama, KAI mengakui bahwa untuk memenuhi kebutuhan sarana dalam jangka pendek, mereka masih harus mengambil langkah darurat berupa impor KRL bekas dari Jepang sebagai solusi transisi (bridging). Langkah ini diambil semata-mata untuk menjaga ketersediaan armada di tengah proses pembenahan industri dalam negeri yang sedang berjalan.


