Faktual.news – PT Pelabuhan Indonesia (Persero) atau Pelindo tengah melakukan langkah besar dalam restrukturisasi organisasi mereka. Perusahaan pelabuhan raksasa milik negara ini memutuskan untuk memangkas jumlah entitas dalam grupnya secara signifikan. Jika sebelumnya Pelindo menaungi 41 anak perusahaan, melalui program penyederhanaan atau streamlining, jumlah tersebut akan dipangkas menjadi hanya 24 entitas saja pada tahun 2026 mendatang.
Langkah strategis ini merupakan bagian dari transformasi besar-besaran yang sedang dijalankan oleh manajemen Pelindo. Kepala Badan Pengaturan (BP) BUMN sekaligus COO Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara Indonesia, Dony Oskaria, mengungkapkan bahwa proses penataan struktur ini merupakan fase awal yang sangat krusial. Menurutnya, sebelum melangkah ke tahap pembenahan model bisnis yang lebih kompleks, perusahaan harus terlebih dahulu merapikan struktur organisasinya.

"Transformasinya masih panjang, tapi dimulai dari streamlining dulu, setelah itu baru kita masuk ke proses menata model bisnis kita menjadi lebih benar," ujar Dony dalam keterangan resminya di Jakarta.
Dalam program penyederhanaan ini, terdapat 17 entitas yang masuk dalam radar penataan. Hingga saat ini, progres telah berjalan cukup signifikan di mana 11 entitas dilaporkan telah menyelesaikan aksi korporasi mereka. Sementara itu, enam entitas lainnya masih dalam proses dan ditargetkan untuk rampung paling lambat pada akhir tahun 2026.
Metode yang digunakan Pelindo dalam melakukan penataan ini cukup beragam, mulai dari penggabungan usaha atau merger, konsolidasi, pelepasan aset atau divestasi, hingga pembubaran perusahaan atau likuidasi. Hal ini dilakukan untuk memastikan tidak ada tumpang tindih fungsi antar perusahaan di bawah naungan Pelindo Group.
Selain menyasar jumlah perusahaan, Pelindo juga melakukan perombakan mendasar pada model pengelolaan internal. Perusahaan melakukan transisi model parenting dari yang sebelumnya bersifat strategic holding menjadi active management. Dengan model baru ini, Pelindo akan mengambil peran yang lebih langsung dan intensif dalam mengawasi serta mengelola kegiatan operasional utama di lapangan.
Perubahan ini juga bertujuan untuk mempertegas pembagian peran antara tingkat holding, regional, service line, hingga ke entitas usaha terkecil. Dengan struktur yang lebih ramping, diharapkan pengambilan keputusan dapat dilakukan dengan lebih cepat dan efisien.
Dony menambahkan bahwa transformasi ini menjadi semakin memungkinkan seiring dengan adanya konsolidasi di bawah Danantara. Menurutnya, langkah ini adalah keputusan yang sangat tepat untuk memperkuat posisi Pelindo di kancah internasional. Melalui penyederhanaan struktur ini, Pelindo menargetkan terbentuknya model bisnis yang lebih ramping, efisien, dan memiliki fungsi yang sangat jelas di setiap lini usahanya.


