Faktual.news – Badan Gizi Nasional (BGN) tengah menyiapkan terobosan besar dalam menjalankan program Makan Bergizi Gratis (MBG) di seluruh Indonesia. Tidak sekadar memberikan makanan, lembaga ini berencana menerapkan sistem penyajian prasmanan serta pengawasan ketat berbasis teknologi kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) untuk menjamin kualitas dan keamanan pangan bagi para siswa.
Kepala BGN, Sudaryono, mengungkapkan bahwa target ambisius telah ditetapkan. Hingga akhir tahun 2026, pihaknya menargetkan sebanyak 5.000 hingga 10.000 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) atau dapur penyedia makanan sudah mampu menerapkan metode prasmanan. Langkah ini diambil sebagai upaya preventif untuk meminimalisir risiko keracunan makanan, mencegah kerusakan bahan pangan, serta memastikan makanan yang sampai ke tangan siswa tetap dalam kondisi hangat dan layak konsumsi.

Dalam agenda Refleksi 100 Hari Kepemimpinan Kepala BGN di Jakarta Selatan, Kamis (29/10), Sudaryono menjelaskan bahwa metode prasmanan ini akan dijalankan dengan cara yang berbeda dari sistem antrean konvensional. Alih-alih meminta seluruh siswa berkumpul di satu titik, makanan akan diantarkan langsung ke masing-masing ruang kelas.
"Jika dalam satu kelas terdapat 30 siswa, maka akan disediakan 30 porsi nasi, sayur, dan lauk yang diletakkan di kelas tersebut. Mereka bisa langsung makan, lalu merapikannya kembali setelah selesai. Dengan cara ini, suhu makanan tetap terjaga, minimal di angka 60 derajat Celsius, sehingga tidak perlu dipanaskan lagi," jelas Sudaryono.
Menariknya, sistem ini juga memberikan ruang bagi siswa yang masih merasa lapar untuk mengambil porsi tambahan selama persediaan masih tersedia. Hal ini memastikan kebutuhan gizi siswa terpenuhi secara optimal. Sudaryono menambahkan bahwa pola ini merupakan best practice atau praktik terbaik yang telah diterapkan di negara-negara maju seperti Jepang dan beberapa negara di Eropa.
Selain perubahan cara penyajian, aspek keamanan akan diperketat melalui teknologi digital. BGN akan memasang kamera CCTV di dapur-dapur penyedia yang terintegrasi dengan sistem pemantauan terpusat berbasis AI. Teknologi ini dirancang untuk mengawasi setiap gerak-gerik petugas di dapur guna memastikan kepatuhan terhadap Prosedur Operasional Standar (SOP).
"Melalui bantuan Artificial Intelligence, kami bisa melakukan fungsi pencegahan. Sistem ini dapat mendeteksi jika ada pelanggaran SOP, misalnya petugas yang meletakkan bahan makanan di lantai, tidak menggunakan sarung tangan, atau mengolah sayuran di tempat yang tidak higienis," tegasnya.
Dari total sekitar 26.300 SPPG yang direncanakan, BGN menargetkan setidaknya 5.000 hingga 10.000 dapur sudah terkoneksi dengan sistem pengawasan CCTV terpusat ini pada akhir tahun 2026. Dengan kombinasi metode prasmanan dan pengawasan teknologi tinggi, program MBG diharapkan tidak hanya menjadi pemenuhan nutrisi, tetapi juga menjadi standar baru dalam keamanan pangan nasional.


