Close Menu
Faktual News

    Subscribe to Updates

    Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

    What's Hot

    Hadiah Fantastis Untuk Pahlawan Olahraga Indonesia

    31-10-2026 - 02.55

    Ancaman Bom Waktu Anggaran Energi Indonesia

    31-10-2026 - 02.20

    DBS Jadi Bank Teraman di Asia

    30-10-2026 - 23.55
    FacebookX (Twitter)Instagram
    Faktual NewsFaktual News
    • Home
    • Olahraga
      • Sepakbola
      • Esports
    • Dunia
    Trending
    • Hadiah Fantastis Untuk Pahlawan Olahraga Indonesia
    • Ancaman Bom Waktu Anggaran Energi Indonesia
    • DBS Jadi Bank Teraman di Asia
    • Duka Mendalam Dunia Industri Kehilangan Heyzer Harsono
    • Misi Besar Trenggono Bangkitkan Nelayan Jember
    • Dilema Transisi Energi Indonesia dan Korea
    • Strategi Hilirisasi Mineral Tingkatkan Ekonomi
    • Membangun Ekonomi Desa Lewat Ikan di DIY
    Faktual News
    Home - Market - Dilema Transisi Energi Indonesia dan Korea
    Market

    Dilema Transisi Energi Indonesia dan Korea

    30-10-2026 - 21.2003 Mins Read0
    dilema transisi energi indonesia dan korea

    Faktual.news – Upaya transisi energi menuju sumber daya yang lebih bersih kini menghadapi tembok besar di dua negara maju di Asia, yakni Indonesia dan Korea Selatan. Perusahaan listrik negara masing-masing, PT PLN (Persero) dan Korea Electric Power Corporation (KEPCO), ternyata terjebak dalam labirin persoalan yang hampir serupa: ketergantungan pada penjualan listrik, tekanan finansial, hingga regulasi tarif yang kaku.

    Kondisi ini menciptakan dilema sistemik. Di satu sisi, kedua negara dituntut untuk segera beralih ke energi terbarukan guna menekan emisi. Namun di sisi lain, model bisnis perusahaan listrik negara justru terancam jika konsumen mulai mandiri dengan memproduksi listrik sendiri melalui energi terbarukan.

    Dilema Transisi Energi Indonesia dan Korea
    Gambar Istimewa : akcdn.detik.net.id

    Direktur Program Transformasi Sistem Energi dari Institute for Essential Services Reform (IESR), Deon Arinaldo, mengungkapkan bahwa PLN saat ini memiliki ruang gerak yang sangat terbatas. Hal ini disebabkan oleh ketergantungan pendapatan yang sangat tinggi terhadap subsidi dan kompensasi pemerintah.

    "Sekitar 30 persen pendapatan PLN berasal dari subsidi dan kompensasi pemerintah, sementara 70 persen sisanya dari penjualan listrik yang mereka kendalikan," ujar Deon dalam sebuah workshop di Jakarta, Jumat (30/10).

    Ketergantungan ini memicu sikap defensif dari PLN. Semakin banyak pelanggan—terutama sektor industri—yang memasang Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) atap untuk memenuhi kebutuhan mandiri, maka semakin kecil potensi penjualan listrik yang masuk ke kantong PLN. Hal inilah yang disinyalir menjadi alasan di balik pembatasan kuota PLTS atap selama ini.

    Selain masalah pangsa pasar, PLN juga menghadapi tantangan kapasitas finansial. Investasi besar untuk membangun jaringan listrik seringkali dipandang sebagai beban biaya daripada sumber pendapatan, berbeda dengan pembangunan pembangkit yang langsung menghasilkan uang melalui penjualan listrik. Dengan laba bersih yang hanya berkisar di angka 3 persen, kondisi keuangan PLN dinilai cukup berisiko jika dukungan anggaran negara terganggu.

    Persoalan serupa juga dialami oleh KEPCO di Korea Selatan. Gahee Han, Head of the Energy Market and Policy Solutions for Our Climate, menjelaskan bahwa KEPCO menghadapi dilema yang identik. Ketika perusahaan energi terbarukan swasta masuk ke pasar dan menggunakan jaringan transmisi milik KEPCO, perusahaan negara tersebut justru berisiko kehilangan pelanggan.

    "Situasi KEPCO sangat mirip dengan PLN. Mereka memiliki jaringan, namun ketika pesaing baru masuk menggunakan jaringan tersebut, KEPCO berpotensi kehilangan konsumen," jelas Gahee.

    Untuk memecah kebuntuan ini, IESR menyarankan pemerintah Indonesia segera membentuk unit pelaksana atau Project Management Office (PMO) yang melibatkan PLN dan pemerintah untuk mengawal program ambisius 100 GW energi terbarukan. Selain itu, kepastian lahan dan transparansi daftar proyek yang bankable menjadi kunci utama untuk menarik investor global.

    Salah satu langkah cepat yang bisa diambil adalah dengan menyederhanakan regulasi PLTS atap tanpa harus menunggu regulasi besar lainnya. Dengan memperbaiki tata kelola dan menciptakan mekanisme pasar listrik yang lebih maju, Indonesia diharapkan mampu menarik minat raksasa teknologi seperti Samsung atau LG untuk berinvestasi dalam sektor baterai dan infrastruktur energi masa depan.

    Ikuti Kami di Google News
    Share.FacebookTelegramWhatsAppCopy Link
    Putrawan Dian
    Putrawan Dian

      kontributor Faktual News yang mengkhususkan diri dalam pelaporan kategori Market dan Ekonomi Makro. Ia menyajikan analisis mendalam mengenai pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), nilai tukar Rupiah, dan kebijakan moneter yang memengaruhi pasar keuangan.

      Baca Juga

      Hadiah Fantastis Untuk Pahlawan Olahraga Indonesia

      31-10-2026 - 02.55

      Ancaman Bom Waktu Anggaran Energi Indonesia

      31-10-2026 - 02.20

      DBS Jadi Bank Teraman di Asia

      30-10-2026 - 23.55

      Duka Mendalam Dunia Industri Kehilangan Heyzer Harsono

      30-10-2026 - 23.20

      Misi Besar Trenggono Bangkitkan Nelayan Jember

      30-10-2026 - 21.55

      Strategi Hilirisasi Mineral Tingkatkan Ekonomi

      30-10-2026 - 18.55
      Add A Comment
      Leave A ReplyCancel Reply

      Recent Posts

      • Hadiah Fantastis Untuk Pahlawan Olahraga Indonesia
      • Ancaman Bom Waktu Anggaran Energi Indonesia
      • DBS Jadi Bank Teraman di Asia
      • Duka Mendalam Dunia Industri Kehilangan Heyzer Harsono
      • Misi Besar Trenggono Bangkitkan Nelayan Jember

      Recent Comments

      Tidak ada komentar untuk ditampilkan.

      Archives

      • Oktober 2026
      • September 2026
      • Agustus 2026
      • Juli 2026
      • Juni 2026
      • Mei 2026
      • April 2026
      • Maret 2026
      • Februari 2026
      • Januari 2026
      • Desember 2025
      • November 2025
      • Oktober 2025
      • September 2025
      • Agustus 2025
      • Juli 2025
      • Juni 2025
      • Mei 2025
      • April 2025

      Categories

      • Dunia
      • Esports
      • Market
      • Olahraga
      • Sepakbola
      Faktual News
      • Home
      • Redaksi
      • Pedoman Media Siber
      • Privacy Policy
      • Disklaimer
      • Kontak
      • Tentang Kami
      © 2026 faktual.news | KR Network

      Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.