faktual.news – Orang nomor satu di PT Kereta Api Indonesia KAI Bobby Rasyidin akhirnya buka suara mengenai rumitnya menertibkan perlintasan sebidang yang tidak dijaga. Menurut Bobby tantangan terbesar justru datang dari masyarakat yang secara swadaya mengoperasikan jalur-jalur tersebut sehingga membutuhkan pendekatan sosial yang intensif.
Dalam sebuah Rapat Dengar Pendapat dengan Komisi VI DPR RI di Jakarta Bobby memaparkan data mengejutkan. Dari total 3.674 perlintasan sebidang di seluruh Indonesia sebanyak 1.810 di antaranya masih berstatus tanpa penjaga resmi. KAI telah mengidentifikasi 1.404 titik sebagai prioritas utama untuk penanganan baik melalui penutupan permanen maupun peningkatan fitur keamanan.

Bobby menambahkan KAI telah menetapkan target ambisius untuk meningkatkan keselamatan di 190 perlintasan hingga tahun 2026. Sementara itu 172 perlintasan lainnya sudah berhasil ditutup. "Terus terang kendala utama kami dalam menutup perlintasan tak berpenjaga ini adalah masyarakatnya. Banyak sekali perlintasan yang dioperasikan secara mandiri oleh warga" jelas Bobby pada Rabu 23 September.
Untuk perlintasan yang masih aktif digunakan KAI menyiapkan solusi berupa pemasangan palang pintu otomatis. Dukungan finansial dari pemerintah pusat pun telah mengalir deras. Dana sebesar Rp1,1 triliun telah dianggarkan berkat arahan langsung Presiden Prabowo Subianto. Anggaran ini merupakan hasil koordinasi dengan Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi dan Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi.
Perseroan menargetkan penuntasan penanganan 1.404 perlintasan yang sudah terverifikasi tersebut selesai pada tahun 2027. Program ini meliputi penutupan total dan instalasi perangkat keselamatan modern. "Tentunya kami mendapat dukungan penuh dari pemerintah. Pada tahun 2027 semua dari 1.404 perlintasan ini akan kami tutup atau lengkapi dengan peralatan otomatis termasuk palang pintunya" tegas Bobby.


