faktual.news – Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menunjukkan sikap tenang menanggapi rencana Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang mengancam akan mengenakan tarif hingga 100 persen bagi negara pengimpor minyak dari Rusia. Airlangga menegaskan bahwa langkah Indonesia membeli minyak dari Rusia dilakukan pada periode yang memang diperbolehkan, sehingga tidak perlu khawatir terhadap ancaman tersebut. "Kami masuk dalam ‘jendela waktu’ yang diizinkan untuk melakukan transaksi tersebut," ungkapnya saat ditemui di sebuah hotel di Jakarta pada Rabu (23/9).
Ancaman keras dari Trump ini merupakan buntut dari pengesahan Rancangan Undang-Undang sanksi komprehensif oleh Kongres AS. Menurut laporan AFP, parlemen AS telah menyetujui paket sanksi baru yang bertujuan untuk meningkatkan tekanan terhadap Rusia terkait konflik di Ukraina. RUU ini, yang sempat tertunda berbulan-bulan, akhirnya dikirimkan kepada Trump setelah disahkan.

Dewan Perwakilan Rakyat AS, yang didominasi Partai Republik, mengesahkan aturan ini dengan perbandingan suara 262 berbanding 159. Sebelumnya, Senat juga telah memberikan persetujuan dengan 86 suara melawan 11. Trump sendiri telah menyatakan komitmennya untuk menandatangani undang-undang tersebut. Sanksi ini tidak hanya menargetkan sektor energi dan pertahanan Rusia, tetapi juga secara spesifik menyasar Presiden Vladimir Putin, para pejabat tinggi, serta "armada bayangan" kapal tanker Rusia yang digunakan untuk menghindari pembatasan Barat.
RUU tersebut memberikan kewenangan penuh kepada Trump untuk menerapkan tarif hingga 100 persen kepada negara-negara pembeli utama minyak dan gas Rusia, termasuk raksasa ekonomi seperti China dan India. Kebijakan ini dirancang untuk memutus aliran pendapatan Moskow yang menjadi sumber pembiayaan perang di Ukraina.
Di sisi lain, Indonesia baru-baru ini telah memulai proses impor minyak mentah dari Rusia. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengonfirmasi bahwa tahap pertama importasi telah berhasil dilaksanakan. Meskipun demikian, Bahlil tidak merinci volume pasti minyak yang telah diimpor. Ia menambahkan bahwa tahap kedua sedang berjalan, dan pemerintah berencana untuk menjalin kontrak jangka panjang untuk impor minyak dari Rusia.
Importasi minyak mentah ini dilakukan melalui skema kerja sama antar pemerintah atau government to government (G2G) dan akan dimanfaatkan sebagai cadangan energi strategis nasional. Indonesia sendiri mendapatkan alokasi impor minyak mentah sebanyak 150 juta barel dari Rusia. Kesepakatan ini merupakan hasil dari kunjungan delegasi Indonesia yang dipimpin oleh Menteri Pertahanan Prabowo Subianto dan Menteri ESDM Bahlil Lahadalia ke Moskow beberapa waktu lalu.


