faktual.news – Pimpinan Bank Indonesia dan Kementerian Keuangan, Destry Damayanti serta Suahasil Nazara, baru-baru ini mengadakan pertemuan penting yang menarik perhatian publik. Diskusi intensif antara kedua lembaga negara ini bahkan sempat membuat jadwal molor dari waktu yang ditentukan.
Gubernur BI Destry Damayanti mengungkapkan, pertemuan pada Kamis sore itu mengalami penundaan sekitar 26 menit. Ia berkelakar bahwa keterlambatan tersebut disebabkan oleh perdebatan alot mengenai "kering tempe yang kurang asin", sebuah candaan yang mengisyaratkan betapa seriusnya topik yang dibahas di balik tawa.

Destry menjelaskan, pertemuan ini merupakan bagian dari agenda komunikasi berkala antara BI dan Kemenkeu. Tujuannya tak lain adalah untuk memperkokoh koordinasi kebijakan fiskal dan moneter negara. Sinergi ini dianggap krusial mengingat BI dan Kemenkeu adalah dua pilar utama dalam Komite Stabilitas Sistem Keuangan KSSK, bersama Otoritas Jasa Keuangan OJK dan Lembaga Penjamin Simpanan LPS.
Dalam pertemuan tersebut, sejumlah topik strategis menjadi sorotan. Mulai dari dinamika likuiditas pasar hingga strategi penerbitan surat berharga pemerintah dan Surat Berharga Rupiah Bank Indonesia SRBI. Isu-isu reguler lainnya yang menjadi fokus diskusi juga turut dibahas demi menjaga stabilitas ekonomi nasional.
Di kesempatan yang sama, Suahasil Nazara yang baru menjabat sebagai Menteri Keuangan, menambahkan bahwa pertemuan ini juga menjadi kesempatan untuk bersilaturahmi sekaligus memperkenalkan diri secara resmi. Ia menegaskan komitmen untuk terus mempererat koordinasi dan sinergi, baik secara bilateral maupun dalam kerangka KSSK.
Menurut Suahasil, kolaborasi erat ini memiliki satu tujuan utama: mendorong pertumbuhan sektor-sektor ekonomi yang mampu menciptakan nilai tambah dan membuka lebih banyak lapangan pekerjaan. Sinergi kebijakan diperlukan agar setiap lembaga dapat menjalankan mandatnya secara optimal, yaitu memacu pertumbuhan ekonomi yang inklusif sekaligus memberikan perlindungan maksimal bagi masyarakat.


