faktual.news – Direktur Utama PT Kereta Api Indonesia KAI Bobby Rasyidin akhirnya angkat bicara menanggapi keluhan masyarakat terkait kondisi Kereta Rel Listrik KRL Commuter Line yang kerap terasa panas dan penuh sesak. Bobby menjelaskan, masalah kenyamanan ini bukan tanpa alasan, melainkan ada perbedaan signifikan antara armada lama dan baru, serta tantangan infrastruktur yang sedang diatasi.
Ia membeberkan, kapasitas pendingin udara AC pada KRL eks-Jepang yang masih beroperasi hanya sekitar 4.200 kilokalori per jam. Angka ini jauh di bawah standar kereta baru, termasuk produksi PT INKA, yang mencapai 6.000 kilokalori per jam atau lebih. "Begitu kita remajakan kereta-kereta Jepang ini, semuanya itu kan akan 6.000-an. Kalau 6.000 udah enggak gerah lagi," tegas Bobby di Kompleks Parlemen Jakarta Pusat pada Rabu 23 September.

KRL bekas pakai dari Jepang tersebut, seperti seri JR 205 atau Tokyo Metro, memang dirancang untuk iklim subtropis empat musim. Akibatnya, spesifikasi AC bawaan mereka seringkali kewalahan menghadapi cuaca tropis Indonesia yang menyengat, ditambah lagi dengan tingginya kepadatan penumpang terutama saat jam sibuk. Inilah yang menjadi penyebab utama keluhan penumpang soal suhu gerbong yang kurang nyaman.
Namun, Bobby menegaskan bahwa persoalan KRL Jabodetabek tidak hanya sebatas pendingin udara. Keterbatasan infrastruktur juga menjadi faktor krusial dalam mengatasi kepadatan penumpang yang terus meningkat.
Saat ini, KRL Jabodetabek melayani sekitar 1,1 juta penumpang setiap hari dengan lebih dari seribu perjalanan. Pada jam sibuk, kepadatan di dalam gerbong bisa mencapai delapan orang per meter persegi, jauh melampaui standar kenyamanan. "Kurangnya itu tidak hanya di sarananya, tidak hanya keretanya, kurang itu juga ada di infrastrukturnya. Infrastruktur ini, dalam dua tiga tahun ke depan, inilah yang kita benahi dan kita tingkatkan kapasitasnya," jelas Bobby.
Data menunjukkan, jumlah pengguna KRL melonjak 11,3 persen pada semester pertama tahun ini dibandingkan periode serupa tahun sebelumnya. Rata-rata penumpang harian yang sebelumnya di bawah 1 juta kini telah menembus angka 1,1 juta, dengan puncak harian mencapai 1,3 juta.
Kepadatan ini tidak merata di semua jalur. Jalur Rangkasbitung mencatat okupansi tertinggi, melebihi 160 persen. Sementara itu, jalur Bekasi sekitar 120 persen dan Bogor 130 persen. Bobby membandingkan standar ideal 1:6 (satu orang per enam meter persegi) dengan kondisi riil di Bogor dan Bekasi yang masih 1:7, dan Rangkasbitung yang mencapai 1:12. Angka ini menunjukkan betapa padatnya kondisi di jalur-jalur tersebut.
Untuk mengatasi masalah ini, KAI telah menyiapkan sejumlah strategi. Di jalur Rangkasbitung, salah satu penyebab kepadatan adalah jeda waktu antar kereta (headway) yang masih 10-15 menit. KAI berencana meningkatkan sistem persinyalan agar headway bisa dipangkas menjadi 4-5 menit. Selain itu, lima gardu traksi baru akan dibangun dan sembilan lainnya ditingkatkan kapasitasnya. Dengan peningkatan kelistrikan ini, seluruh perjalanan di jalur tersebut ditargetkan dapat menggunakan rangkaian SF12 (12 gerbong) mulai semester pertama 2027.
Di jalur Bogor, KAI akan menambah 22 slot perjalanan, dengan mengakhiri perjalanan Nambo Line di Citayam untuk efisiensi. Sementara itu, elektrifikasi jalur Bekasi akan diperpanjang dari Cikarang hingga Cikampek, dan jalur Bogor dari Bogor menuju Cigombong.
Seluruh rangkaian peningkatan kapasitas ini merupakan bagian dari visi KAI untuk mengangkut hingga 2 juta penumpang KRL Jabodetabek setiap hari, naik signifikan dari rata-rata 1,1 juta penumpang saat ini. Bobby menargetkan, pembenahan infrastruktur ini akan mulai mengubah kondisi kepadatan KRL dalam beberapa tahun ke depan.
"Prasarana quick win-nya itu adalah tahun 2026 adalah untuk jalur Green Line yang Rangkasbitung, itu kita mulai memasang atau menyisipkan lima gardu traksi di tahun ini dan upgrading di sembilan gardu lainnya, sehingga nanti di semester I 2027 jalur Green Line ini itu akan bisa dilewati oleh SF12 semua," papar Bobby.
Selain kenyamanan dan kapasitas, aspek keselamatan juga menjadi prioritas. KAI akan meningkatkan proteksi perjalanan melalui teknologi Automatic Train Protection ATP. Saat ini, sistem perlindungan masih mengandalkan grafik perjalanan kereta, persinyalan, serta masinis sebagai lapisan terakhir.
Ketika ditanya apakah kepadatan ekstrem seperti saat ini tidak lagi terjadi pada 2028, Bobby dengan optimis menjawab, "Iya, insyaallah. Karena bagi kami bahwa keberadaan KAI ini adalah pelayan dari angkutan publik, maka kami harus jamin." Ini menunjukkan komitmen KAI untuk terus meningkatkan pelayanan demi kenyamanan dan keamanan pengguna KRL.


