Faktual News Jakarta – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melanjutkan tren positifnya pada perdagangan pagi ini, Jumat (7/11), dibuka di level 8.347,24. Angka ini menunjukkan kenaikan sebesar 0,12 persen dari posisi penutupan sebelumnya di 8.337,05. Pukul 9.00 WIB, pergerakan pasar saham menunjukkan optimisme di kalangan investor.
Data dari RTI Business mencatat, hingga berita ini diturunkan, sebanyak 361,96 juta saham telah diperdagangkan dengan frekuensi transaksi mencapai 47 ribu kali. Total nilai transaksi tercatat sebesar Rp264,12 miliar. Terpantau 227 saham mengalami kenaikan, sementara 83 saham terkoreksi, dan 294 saham stagnan.
Analis dari Ajaib Sekuritas, Ratih Mustikoningsih, sebelumnya memprediksi IHSG akan bergerak dalam rentang 8.200-8.350. "Pada perdagangan kemarin, IHSG ditutup menguat 0,22 persen. Hari ini, kami memperkirakan IHSG akan bergerak melemah terbatas," ujarnya dalam risetnya.
Sentimen positif dari dalam negeri menjadi salah satu faktor pendorong penguatan IHSG. Secara akumulatif sejak awal tahun, IHSG telah mencatatkan kenaikan sebesar 17,76 persen hingga 6 November 2026. Meskipun demikian, investor asing tercatat melakukan penjualan bersih (outflow) sebesar Rp114,9 miliar di seluruh pasar ekuitas pada perdagangan kemarin. Nilai tukar rupiah juga mengalami tekanan, dengan kurs JISDOR berada di level Rp16.729 per USD pada 5 November 2025.
Sementara itu, Indeks Harga Properti Residensial (IHPR) pada kuartal III 2025 menunjukkan kenaikan sebesar 0,84 persen secara tahunan (yoy). Mayoritas pembiayaan properti masih didominasi oleh Kredit Pemilikan Rumah (KPR) dengan pangsa 74,41 persen. Namun, permintaan properti residensial belum pulih sepenuhnya di tengah transisi pemerintahan, suku bunga tinggi, dan daya beli yang masih lemah.
Dari sisi global, bursa Wall Street mengalami koreksi akibat aksi ambil untung (profit taking) pada saham-saham teknologi. Indeks Nasdaq turun 1,90 persen, sementara S&P 500 melemah 1,12 persen. Kekhawatiran pasar terhadap valuasi perusahaan AI dan semikonduktor yang dianggap terlalu tinggi juga menjadi sentimen negatif.
Investor juga menantikan rilis data inflasi Tiongkok. Pada September 2025, Tiongkok mengalami deflasi di tingkat konsumen sebesar 0,3 persen dan di tingkat produsen sebesar 2,3 persen. Kondisi ini berpotensi berdampak negatif terhadap ekonomi global, termasuk penurunan permintaan komoditas non-migas.
