faktual.news – Harga telur dan daging ayam di tingkat peternak kini sedang menghadapi masa sulit. Penurunan drastis daya beli akibat program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang rehat sementara waktu, membuat Menteri Perdagangan Budi Santoso bergerak cepat. Ia melayangkan imbauan resmi kepada para pelaku usaha hotel restoran dan katering (horeka) serta jaringan ritel modern untuk menggenjot penyerapan komoditas peternakan nasional.
Langkah strategis ini diambil menyusul laporan mengenai anjloknya harga telur dan ayam di kandang. Budi Santoso, dalam konferensi pers di Jakarta, menegaskan pentingnya peran sektor horeka dan ritel sebagai penopang utama pasar. "Kami sudah mengirimkan surat kepada pengusaha horeka dan Aprindo, meminta mereka untuk menyerap lebih banyak telur dan ayam," ujarnya, menekankan kebutuhan akan jalur distribusi yang stabil.

Para produsen telur dan ayam sangat membutuhkan pasar yang berkelanjutan agar hasil panen mereka tidak menumpuk, terutama saat permintaan dari program MBG sedang ditangguhkan. Mendag berharap, restoran dan berbagai usaha kuliner dapat memperbanyak sajian yang menggunakan telur maupun daging ayam dalam menu mereka. Peningkatan konsumsi ini diharapkan mampu mendongkrak permintaan pasar dan membantu menstabilkan harga di tingkat peternak yang kini tertekan.
Sebelumnya, Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman juga telah menyuarakan kekhawatirannya. Ia meminta perusahaan pembeli besar (offtaker) untuk meningkatkan pembelian telur dan daging ayam dengan harga yang menguntungkan peternak. Amran menekankan, keberlangsungan usaha peternak harus dijaga. Jika mereka terus merugi karena harga di bawah modal produksi, risiko penghentian produksi akan mengancam, yang pada akhirnya bisa memicu lonjakan harga di masa mendatang.
Program Makan Bergizi Gratis sendiri, yang sebelumnya berkolaborasi dengan Badan Gizi Nasional (BGN) untuk meningkatkan porsi telur dari satu menjadi tiga butir per minggu, kini harus berhenti sejenak. Wakil Kepala BGN Agustina Arumsari menjelaskan, masa rehat ini dimanfaatkan untuk melakukan audit kualitas dapur, verifikasi data penerima manfaat, serta penyempurnaan tata kelola program Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).
Kondisi ini memaksa pemerintah mencari sumber permintaan alternatif agar produksi telur dan ayam tetap terserap pasar tanpa merugikan peternak. Laporan dari berbagai daerah menunjukkan harga telur di kandang sempat menyentuh angka Rp20.600 per kilogram, jauh di bawah estimasi biaya produksi sebesar Rp23.000 per kilogram. Situasi ini menuntut respons cepat dan kolaborasi lintas sektor demi menjaga stabilitas harga dan kesejahteraan peternak.


