Faktual News – Pada Jumat, 10 April 2026, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melaju kencang di awal perdagangan, mencatatkan penguatan signifikan 0,61 persen ke level 7.351,99. Angka ini naik dari posisi penutupan sebelumnya 7.307,58, menandakan sentimen positif yang menyelimuti pasar modal domestik sejak pembukaan pukul 09.00 WIB.
Data dari RTI Business menunjukkan aktivitas perdagangan yang menggeliat. Sebanyak 425,80 juta saham berpindah tangan dalam 43 ribu kali transaksi, menghasilkan total nilai transaksi mencapai Rp261,80 miliar. Optimisme investor tercermin dari dominasi saham yang menguat, yakni 311 saham, berbanding 81 saham yang terkoreksi, dan 235 saham yang stagnan.
Penguatan IHSG pagi ini sejalan dengan proyeksi analis Phintraco Sekuritas. Sebelumnya, mereka memperkirakan IHSG akan bergerak cenderung menguat, menguji level 7.350. "Secara teknikal, IHSG masih bertahan di atas MA20 dan pembentukan histogram positif MACD masih berlanjut," jelas Manajemen Phintraco dalam risetnya di Jakarta, 10 April 2026, mengindikasikan sinyal positif dari indikator teknikal.
Performa positif ini melanjutkan tren kemarin, di mana IHSG berhasil ditutup menguat 0,39 persen ke level 7.307,59, setelah sempat bergerak fluktuatif sepanjang perdagangan.
Bayangan Sentimen Ekonomi Global
Namun, di balik euforia penguatan pasar, bayangan sentimen negatif dari proyeksi ekonomi global mulai membayangi. Analis Phintraco menyoroti revisi proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia oleh Bank Dunia untuk tahun 2026.
Bank Dunia memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia menjadi 4,7 persen dari sebelumnya 4,8 persen. Angka ini juga jauh di bawah target pemerintah dalam APBN 2026 yang sebesar 5,4 persen, sebuah indikasi perlambatan yang patut diwaspadai.
Pemangkasan ini bukan tanpa alasan. Eskalasi konflik di Timur Tengah dipandang sebagai pemicu utama, yang berpotensi mendongkrak harga energi global dan pada gilirannya, membebani perekonomian Indonesia. Tren perlambatan ini juga selaras dengan kondisi regional di kawasan Asia Timur dan Pasifik (di luar Tiongkok), yang proyeksi pertumbuhannya ikut dipangkas dari 4,4 persen menjadi 4,1 persen.
Dengan demikian, meskipun IHSG menunjukkan performa yang menjanjikan di awal perdagangan, para investor tetap perlu mencermati dinamika sentimen makroekonomi global yang berpotensi memengaruhi pergerakan pasar ke depan. Keseimbangan antara optimisme teknikal dan kewaspadaan fundamental akan menjadi kunci dalam menyikapi fluktuasi pasar.
Editor: Galih Pratama
