Faktual.news – Ekonomi Vietnam menunjukkan performa yang luar biasa dengan mencatatkan pertumbuhan fantastis sebesar 9,95 persen hingga September 2026 dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya. Capaian impresif ini menandai laju pertumbuhan tercepat yang pernah diraih negara tersebut sejak masa pandemi Covid-19 melanda dunia empat tahun silam.
Berdasarkan data terbaru yang dirilis pada Sabtu (3/10), performa ekonomi Vietnam pada kuartal ketiga (Juli-September 2026) mengalami peningkatan yang signifikan jika dibandingkan dengan kuartal kedua (April-Juni 2026) yang sebelumnya tercatat berada di angka 8,81 persen setelah dilakukan revisi. Lonjakan ini dipicu oleh dua faktor utama, yakni kinerja ekspor yang sangat kuat serta masifnya investasi di sektor infrastruktur. Meski demikian, angka ini masih sedikit di bawah target pertumbuhan tahunan yang telah ditetapkan pemerintah Vietnam, yakni di atas 10 persen.

Namun, di balik pertumbuhan yang "ngegas" tersebut, Vietnam tidak sepenuhnya lepas dari tantangan global. Sebagai negara yang sangat bergantung pada sektor ekspor, Vietnam harus menghadapi kenyataan pahit berupa kenaikan biaya impor sepanjang tahun 2026. Ketegangan geopolitik, termasuk konflik di Iran, menjadi salah satu pemicu utama melonjaknya biaya logistik dan energi. Hal ini berdampak langsung pada neraca perdagangan negara tersebut.
Sepanjang sembilan bulan pertama tahun ini, Vietnam terpaksa membukukan defisit perdagangan sebesar US$19,42 miliar, sebuah angka yang mencetak rekor defisit tertinggi dalam sejarah negara tersebut. Lonjakan nilai impor yang mencapai 36,7 persen menjadi penyebab utama, di mana nilai impor menembus US$453,72 miliar, melampaui nilai ekspor yang berada di angka US$434,30 miliar. Salah satu penyumbang defisit terbesar adalah kenaikan harga energi. Meskipun volume impor minyak mentah turun 13,5 persen, nilai pembayarannya justru melonjak 14,4 persen. Sementara itu, impor bahan bakar olahan mengalami lonjakan nilai yang sangat tajam hingga 79,3 persen.
National Statistic Office (NSO) Vietnam melaporkan bahwa inflasi atau kenaikan harga konsumen pada September mencapai 5,08 persen secara tahunan. Di sisi lain, sektor industri menunjukkan tren positif dengan peningkatan produksi sebesar 16,7 persen. Investasi juga menjadi motor penggerak utama, di mana total investasi selama sembilan bulan pertama 2026 naik 16,7 persen berkat fokus pemerintah pada pembangunan infrastruktur publik. Arus modal asing (FDI) pun turut mengalir deras dengan kenaikan 12,1 persen menjadi US$21,1 miliar.
Menanggapi fenomena ini, Asian Development Bank (ADB) telah menaikkan proyeksi pertumbuhan ekonomi Vietnam tahun 2026 menjadi 7,8 persen dari estimasi awal sebesar 7,2 persen. ADB menilai sektor manufaktur, konsumsi domestik, dan aliran FDI akan terus menjaga momentum pertumbuhan Vietnam dalam jangka pendek. Namun, tantangan jangka panjang tetap membayangi, terutama terkait potensi pelemahan permintaan global dan ketidakpastian ekonomi dunia.
Analis senior Asia dari Verisk Maplecroft, Laura Schwartz, memberikan catatan kritis terkait fenomena ini. Ia memperingatkan adanya risiko pertumbuhan yang terlalu cepat yang dapat memicu inflasi tak terkendali. Selain itu, potensi krisis pasokan listrik dalam jangka menengah juga menjadi tantangan serius yang harus segera diantisipasi oleh pemerintah Vietnam agar stabilitas ekonomi tetap terjaga.


