Faktual.news – Jakarta kembali membuktikan posisinya sebagai pusat gravitasi ekonomi kreatif dan hiburan di Asia Tenggara. Dua perhelatan besar yang digelar secara maraton pada akhir Oktober lalu, yakni konser musisi internasional Ye (Kanye West) dan Jakarta Running Festival (JRF) 2026, dilaporkan telah menyuntikkan dana segar ke dalam perputaran ekonomi Jakarta dalam jumlah yang sangat fantastis.
Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, mengungkapkan bahwa total dampak ekonomi yang dihasilkan dari kedua acara berskala internasional tersebut menembus angka Rp625 miliar. Angka ini menjadi bukti nyata bagaimana sektor hiburan dan olahraga dapat menjadi motor penggerak ekonomi kota yang sangat efektif.

"Jika dirinci, konser Ye menyumbang sekitar Rp450 miliar, sementara Jakarta Running Festival memberikan kontribusi sebesar Rp175 miliar. Jika kita total, dampaknya mencapai kurang lebih Rp625 miliar," ujar Pramono saat memberikan keterangan di Jakarta Barat pada Senin (26/10).
Lonjakan ekonomi ini tidak lepas dari tingginya antusiasme masyarakat. Tercatat, sebanyak 50 ribu pengunjung dari luar Jakarta berbondong-bondong datang ke ibu kota untuk menyaksikan kedua acara tersebut. Kedatangan massa dari luar daerah ini memicu efek domino pada sektor-sektor pendukung lainnya, seperti transportasi, penginapan, hingga kuliner.
Pramono menjelaskan bahwa penghitungan dampak ekonomi ini dilakukan secara terukur di bawah koordinasi Asisten Keuangan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta. Salah satu penyumbang terbesar berasal dari penjualan tiket konser Ye, yang nilainya mencapai Rp328 miliar. Namun, dampak ekonomi dari konser tersebut jauh lebih besar dari sekadar penjualan tiket.
"Ye memberikan dampak yang sangat luas, baik sebelum maupun sesudah acara berlangsung. Banyak penggemar yang tetap bertahan di Jakarta selama beberapa hari, sehingga total dampaknya mencapai Rp450 miliar," tambahnya.
Selain sektor hiburan, Jakarta Running Festival (JRF) juga memberikan ruang luas bagi pelaku usaha lokal. Dalam gelaran race expo JRF, tercatat sebanyak 49 UMKM lokal turut serta, ditambah dengan 130 merek (brand) yang berpartisipasi. Menariknya, komposisi merek tersebut terbagi rata antara merek lokal dan merek internasional, yang menunjukkan bahwa ajang olahraga ini mampu menarik perhatian pasar global.
Meski angka Rp625 miliar sudah sangat besar, Pramono meyakini bahwa nilai ekonomi yang sebenarnya jauh lebih tinggi dari hitungan tersebut. Ia mengakui ada banyak aktivitas ekonomi yang sulit dikuantifikasi secara presisi, seperti belanja di pusat perbelanjaan, penggunaan jasa transportasi daring, hingga aktivitas di sektor perhotelan yang meningkat tajam selama periode acara.
"Masih banyak aspek yang tidak bisa dihitung secara pasti, seperti belanja di mal dan aktivitas perhotelan lainnya. Namun, angka yang kami peroleh saat ini adalah gambaran nyata dari dampak positif yang ditinggalkan oleh kedua acara besar tersebut," pungkasnya.


