Faktual.news – Kabar gembira datang bagi masyarakat di Kabupaten Asahan, Sumatra Utara. Menteri Koordinator Bidang Pangan, Zulkifli Hasan, melakukan kunjungan langsung ke wilayah tersebut untuk memastikan distribusi bantuan pangan berjalan tepat sasaran. Dalam kunjungan yang berlangsung pada Sabtu (24/10) ini, pemerintah memberikan perhatian khusus kepada warga yang masuk dalam kategori ekonomi rentan, yakni kelompok desil 1 hingga 4.
Sebanyak 164 warga yang terdaftar sebagai penerima manfaat mendapatkan bantuan berupa beras berkualitas. Tidak tanggung-tanggung, setiap penerima mendapatkan jatah 10 kilogram beras per bulan. Untuk memudahkan masyarakat, bantuan ini disalurkan sekaligus untuk masa tiga bulan, sehingga setiap keluarga menerima total 30 kilogram beras dalam satu kali distribusi. Program ini merupakan bagian dari komitmen pemerintah dalam menjaga ketahanan pangan di tingkat rumah tangga.

Setelah penyaluran untuk periode Juli hingga September 2026 tuntas dilaksanakan, pemerintah telah menjadwalkan kelanjutan bantuan ini. Untuk periode Oktober hingga Desember 2026, bantuan pangan dengan volume yang sama akan kembali didistribusikan kepada warga yang membutuhkan. Langkah ini diambil guna memastikan stabilitas konsumsi pangan masyarakat tetap terjaga sepanjang tahun.
Selain bantuan langsung bagi warga desil 1-4, pemerintah juga menyiapkan strategi untuk menjaga daya beli masyarakat luas. Guna memastikan harga pangan tetap terjangkau bagi seluruh lapisan masyarakat, pemerintah telah menyiapkan tambahan 1 juta ton beras SPHP. Pasokan tambahan ini direncanakan akan tersedia hingga April 2027, yang bertujuan untuk memperkuat stok di pasar dan menekan fluktuasi harga beras di tingkat konsumen.
Namun, kunjungan Menko Zulhas ke Asahan tidak hanya soal bantuan sosial. Ada prestasi membanggakan yang juga dilepas secara resmi, yakni ekspor perdana produk UMKM lokal ke pasar internasional. Zulkifli Hasan secara simbolis melepas pengiriman 40 ton terasi udang rebon asal Kabupaten Asahan menuju Thailand. Ekspor perdana ini diperkirakan bernilai sekitar Rp230 juta.
Keberhasilan ekspor ini menjadi angin segar bagi para pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di sektor perikanan. Berdasarkan data Pemerintah Kabupaten Asahan, komoditas terasi menunjukkan tren pertumbuhan yang sangat positif. Pada tahun 2025, volume ekspor mencapai 1.897,7 ton dengan nilai Rp21 miliar, dan melonjak drastis pada 2026 menjadi 2.758,5 ton dengan nilai mencapai Rp34 miliar.
Zulhas berharap momentum ekspor ke Thailand ini menjadi pembuka jalan bagi produk olahan laut lainnya untuk merambah pasar global. Ia juga meminta dukungan dari Bank Indonesia dan pemerintah daerah agar ekosistem UMKM di Asahan terus diperkuat. Dengan garis pantai sepanjang 56 kilometer di Selat Malaka, Asahan memiliki potensi perikanan yang luar biasa besar, yang jika dikelola dengan baik, akan menjadi motor penggerak ekonomi daerah yang tangguh.


