faktual.news – Gejolak global kembali mengguncang ketahanan energi dunia. Dua urat nadi pasokan minyak utama kini terancam serius. Di kawasan Timur Tengah, konflik yang tak berkesudahan membuat Selat Hormuz mencekam, memangkas drastis jutaan barel minyak mentah dari negara-negara Teluk. Belum lagi, serangkaian serangan masif yang melumpuhkan kilang serta terminal ekspor di Rusia turut memukul kapasitas produksi negeri Beruang Merah. Kondisi ini diperparah oleh kebijakan Presiden AS Donald Trump yang meneken sanksi baru, mengancam tarif hingga 100 persen bagi negara mana pun yang nekat mengimpor minyak dari Rusia.
Lantas seberapa kokohkah posisi Indonesia menghadapi goncangan pasokan minyak dunia yang dilanda kekacauan ini

Pengamat Energi dari Universitas Padjadjaran Yayan Satyakti menilai ketahanan energi Indonesia relatif aman untuk menghadapi goncangan sesaat. Pemerintah mencatat stok operasional BBM mampu bertahan hingga 21 hari. Namun ia mengingatkan bahwa posisi ini belum kokoh secara fundamental jika gangguan pasokan global berlangsung dalam jangka panjang.
"Ketahanan energi Indonesia masih cukup aman untuk menghadapi gangguan jangka pendek tetapi belum aman secara struktural jika dua sumber besar terganggu lama" ungkap Yayan pada Rabu 23 September.
Yayan menambahkan risiko dari gangguan ini tidak hanya terletak pada volume minyak tetapi juga langsung mengerek harga biaya pengiriman premi asuransi hingga molornya jadwal suplai. Berdasarkan simulasi model ekonomi konflik global ini diperkirakan menaikkan harga keekonomian BBM sekitar 18 persen dalam skenario rata-rata dan melonjak hingga 26 persen pada skenario puncak.
Lonjakan ini berpotensi membuat subsidi Pertalite yang ditanggung pemerintah membengkak dari kisaran Rp5000 menjadi Rp6600 per liter dalam kondisi terburuk. Dampak kenaikan harga ini tidak akan dirasakan merata di seluruh daerah. Kawasan timur Indonesia seperti Maluku Papua dan Nusa Tenggara diprediksi paling merasakan dampaknya dengan lonjakan harga tertinggi dan risiko stok menipis lebih cepat dibanding wilayah lain yang dekat fasilitas kilang.
Jika gangguan pasokan berlarut-larut tantangan utamanya bergeser pada kemampuan sistem dalam memulihkan cadangan. Tanpa cadangan strategis yang memadai ketahanan energi akan berubah menjadi perebutan pasokan di pasar global yang kian kompetitif. "Jika gangguan berubah menjadi berbulan-bulan pertanyaan utamanya bukan lagi berapa hari stok yang tersedia hari ini melainkan seberapa cepat stok dapat diisi kembali" tegas Yayan.
Terkait efektivitas bauran energi domestik Yayan menyebut program biodiesel B50 sudah mulai menunjukkan hasil nyata sebagai penyangga pasokan solar. Namun ia menekankan B50 bukanlah jawaban tunggal bagi seluruh ketahanan energi. Mandatori B50 memang membantu mengurangi ketergantungan impor bahan bakar fosil tetapi tantangannya tetap ada pada kesinambungan pasokan CPO kualitas FAME kesiapan mesin logistik blending serta dilema antara kebutuhan pangan dan volume ekspor sawit.
Pengamat Ekonomi dari Universitas Andalas Syafruddin Karimi mengatakan hantaman krisis global ini dapat menjalar ke perekonomian domestik melalui dua kanal utama yang memicu efek berantai. "Dampaknya bisa besar karena Indonesia mengimpor sebagian kebutuhan crude BBM dan LPG sehingga gangguan di negara produsen masuk melalui dua jalur sekaligus pasokan fisik dan harga" jelas Syafruddin.
Guncangan ini bergerak dari harga minyak ke nilai tukar rupiah inflasi pembengkakan beban subsidi atau kompensasi di APBN hingga akhirnya menekan biaya logistik harga pangan daya beli rumah tangga suku bunga dan pertumbuhan ekonomi. Untuk mengantisipasi krisis berkepanjangan Syafruddin menekankan pentingnya memperbanyak sumber pasokan agar Indonesia tidak terjerumus pada ketergantungan tunggal di satu kawasan tertentu.
"Opsi dapat diperluas ke Amerika Serikat Afrika Barat seperti Nigeria dan Angola Amerika Latin serta pemasok Asia yang memiliki surplus produk olahan" ucapnya. Terkait wacana impor minyak dari Rusia ia menilai hal tersebut masih dapat menjadi bagian portofolio selama aspek pembayaran asuransi logistik dan kepatuhan sanksi dapat dikelola. Namun ia mengingatkan agar Rusia tidak menjadi satu-satunya pengganti Timur Tengah.
Syafruddin juga menyoroti pentingnya akselerasi pembangunan Cadangan Strategis Energi Nasional agar Indonesia memiliki ketahanan cadangan jangka panjang yang memadai. Soal implementasi biofuel dalam negeri Syafruddin menegaskan program bioetanol E20 masih dalam fase permulaan. Kebutuhan bensin nasional mencapai sekitar 40 juta kiloliter per tahun sedangkan implementasi E20 membutuhkan sekitar 4 juta kiloliter etanol. Namun kapasitas produksi domestik saat ini belum memadai untuk kebutuhan skala besar secara cepat. "Karena itu biofuel sebaiknya dibaca sebagai bagian dari portofolio ketahanan bukan pengganti seluruh impor minyak" pungkas Syafruddin.


