Faktual.news – Dunia penerbangan tanah air sempat diguncang oleh peristiwa langka yang belum pernah terjadi dalam sejarah operasional Bandara Internasional Soekarno-Hatta. Akibat erupsi dahsyat Gunung Anak Krakatau pada awal September 2026, bandara tersibuk di Indonesia ini terpaksa menghentikan seluruh aktivitas operasionalnya secara total. Peristiwa ini menjadi catatan sejarah kelam sekaligus bukti nyata betapa berbahayanya ancaman abu vulkanik bagi keselamatan penerbangan.
Direktur Operasi PT Angkasa Pura Indonesia, Agus Hariyadi, mengungkapkan bahwa situasi mencekam tersebut sebenarnya sudah mulai terdeteksi sejak sore hari pada 5 September 2026. Ancaman sebaran abu vulkanik yang bergerak menuju wilayah Jakarta memicu kekhawatiran mendalam di kalangan pemangku kepentingan penerbangan. Dalam sebuah forum diskusi di Bandung, Agus menceritakan bagaimana ketegangan mulai memuncak saat koordinasi darurat dilakukan untuk menentukan nasib operasional bandara.

Menariknya, pihak maskapai menjadi pihak yang paling vokal dalam menyuarakan urgensi penutupan bandara. Pelita Air disebut sebagai maskapai yang paling awal memberikan peringatan keras demi menjamin keselamatan nyawa manusia. Direktur Utama Pelita Air, Faik Fahmi, dilaporkan telah melakukan komunikasi intensif dengan pihak pengelola bandara sejak sore hari sebelum keputusan drastis tersebut diambil.
Koordinasi tingkat tinggi pun segera dilakukan melalui panggilan darurat yang melibatkan Direktur Jenderal Perhubungan Udara, Lukman F. Laisa. Langkah ini diambil untuk memetakan arah sebaran abu vulkanik berdasarkan data meteorologi terbaru. Setelah melalui pertimbangan yang sangat berat, Kepala Kantor Otoritas Bandar Udara (Otban) Wilayah I Soekarno-Hatta, Putu Eka Cahyadhi, akhirnya memutuskan untuk menutup total seluruh operasional bandara.
Agus Hariyadi mengakui bahwa keputusan ini adalah sesuatu yang sangat tidak biasa. Selama 35 tahun pengabdiannya di Bandara Soekarno-Hatta sejak tahun 1992, ia belum pernah menyaksikan penutupan total seperti ini. Bahkan, pada masa puncak pandemi COVID-19 yang melumpuhkan mobilitas dunia, Bandara Soekarno-Hatta tidak pernah mengalami penutupan secara menyeluruh, melainkan hanya penutupan sebagian atau partial close.
Ketegangan di lapangan semakin nyata saat kru pesawat mulai merasakan dampak langsung dari erupsi tersebut. Direktur Safety Pelita Air, Eriza Muslim, mengungkapkan bahwa para pilot di dalam kokpit sudah mulai mencium aroma belerang yang menyengat. Hal ini menjadi indikator kuat bahwa partikel abu vulkanik sudah berada di ketinggian terbang.
Pihak maskapai terus melakukan mitigasi ketat dengan memantau satelit Himawari setiap beberapa jam sekali. Meskipun keputusan penutupan ini berdampak pada kerugian komersial yang sangat besar dan mengacaukan jadwal penerbangan nasional, Pelita Air menegaskan bahwa keselamatan penumpang dan awak kabin adalah prioritas yang tidak bisa ditawar. Akibat peristiwa ini, Bandara Soekarno-Hatta harus berhenti beroperasi selama dua hari penuh, yakni dari tanggal 6 hingga 8 September 2026.


