faktual.news – Beijing meradang setelah Washington dikabarkan mempertimbangkan kenaikan tarif impor sebesar 7,5 persen untuk produk-produk Negeri Tirai Bambu. Ancaman balasan setimpal pun kini menggema dari China, menandai babak baru ketegangan ekonomi antara dua raksasa dunia tersebut.
Juru bicara Kementerian Perdagangan China Huang Ling dengan tegas menyatakan bahwa Amerika Serikat telah mempolitisasi isu ekonomi dan perdagangan. Menurutnya, langkah ini merupakan bentuk nyata unilateralisme dan proteksionisme yang sangat ditentang oleh Beijing. China menegaskan tidak akan tinggal diam dan siap mengambil semua tindakan yang diperlukan jika AS melanjutkan kebijakan tersebut.

Rencana tarif tambahan dari AS ini dipicu oleh tudingan adanya kelebihan kapasitas manufaktur di China. Laporan investigasi "Section 301" yang dirilis Kantor Perwakilan Dagang AS (USTR) Maret lalu memang menyoroti praktik manufaktur di China serta beberapa mitra ekonomi lainnya, termasuk negara-negara di Asia dan Eropa.
Namun, China membantah keras tuduhan kelebihan kapasitas industri tersebut. Pemerintah Beijing berargumen bahwa kapasitas produksi suatu negara harus dinilai secara komprehensif, objektif, dan adil dari perspektif global. Mereka menekankan bahwa volume produksi yang melampaui konsumsi domestik tidak serta-merta bisa dikategorikan sebagai kelebihan kapasitas.
Saat ini, tarif pengganti AS terhadap barang China sudah berada di level 12,5 persen. Jika tarif tambahan 7,5 persen ini benar-benar diberlakukan, total bea masuk AS untuk produk China akan melonjak menjadi 20 persen. Situasi ini jelas memperkeruh hubungan dagang kedua negara dan berpotensi memicu perang dagang yang lebih luas.


