Faktual.news – Fenomena aksi protes yang dilakukan oleh para peternak ayam petelur, yang sempat berujung pada aksi membuang telur ke jalanan, akhirnya mendapat penjelasan resmi dari pemerintah. Menteri Perdagangan, Budi Santoso, mengungkapkan bahwa kemarahan para peternak tersebut dipicu oleh anjloknya harga jual telur di tingkat produsen yang tidak sebanding dengan biaya operasional yang harus dikeluarkan.
Kondisi kritis ini terjadi ketika harga telur di pasar jatuh hingga ke level yang sangat rendah. Berdasarkan penjelasan Mendag, harga yang sempat menyentuh angka Rp22.000 hingga Rp23.000 per kilogram menjadi pemicu utama. Angka tersebut dinilai tidak mampu menutupi biaya produksi, terutama untuk pengadaan pakan ternak yang harganya terus melonjak.

"Kalau dulu harganya hanya Rp22 ribu sampai Rp23 ribu, peternak tidak sanggup membeli pakan. Itulah alasan mengapa banyak peternak yang akhirnya melakukan aksi demo hingga membuang telur," ujar pria yang akrab disapa Busan tersebut dalam sebuah acara di Jakarta.
Mendag menjelaskan bahwa pemerintah sebenarnya telah menetapkan harga acuan untuk menjaga keseimbangan pasar. Saat ini, harga rata-rata nasional telur berada di angka Rp26.800 per kilogram, yang mana angka ini sudah mulai mendekati harga acuan pemerintah sebesar Rp30.000 per kilogram.
Menurut Budi Santoso, penetapan harga acuan bukanlah tanpa alasan. Pemerintah harus mempertimbangkan tiga komponen utama: biaya produksi peternak, biaya distribusi, serta daya beli masyarakat sebagai konsumen. Pemerintah harus bertindak sebagai penengah agar tidak terjadi ketimpangan yang ekstrem.
"Jangan sampai harga terlalu rendah, nanti peternak tutup usaha. Kalau peternak tutup, pasokan telur akan hilang, telur menjadi langka, dan harganya justru akan melonjak drastis di tingkat konsumen. Namun, di sisi lain, kita juga tidak boleh membebani masyarakat. Maka, titik temu harga Rp30 ribu itulah yang menjadi acuan," tambahnya.
Sebelumnya, gelombang protes dari sekitar 1.050 peternak dari berbagai wilayah seperti Jawa Tengah, Jawa Timur, Jawa Barat, hingga Lampung sempat memadati depan Gedung DPR RI. Mereka menuntut perlindungan agar usaha mereka tidak gulung tikar akibat harga yang tidak masuk akal.
Senada dengan hal tersebut, pengurus Pinsar Petelur Nasional (PPN) mengungkapkan bahwa sejak April lalu, harga telur di tingkat peternak terus merosot di bawah Harga Acuan Pembelian (HAP) yang ditetapkan Badan Pangan Nasional. Bahkan, pada bulan Juni, harga sempat jatuh ke angka Rp17.100 per kilogram, yang menyebabkan peternak mengalami kerugian hingga Rp7.000 per kilogram setiap harinya.
Menanggapi situasi ini, Ketua Komisi IV DPR RI, Titiek Soeharto, berjanji akan membawa aspirasi para peternak ini langsung kepada Presiden Prabowo Subianto. Pihak DPR berkomitmen untuk mendorong pemerintah agar segera menstabilkan harga bahan baku pakan, khususnya jagung, serta mencari solusi agar hasil produksi peternak dapat terserap maksimal oleh program-program pemerintah.


