Faktual.news – Nilai tukar rupiah kembali menunjukkan tren negatif pada perdagangan Kamis (8/10) sore. Mata uang kebanggaan Indonesia tersebut ditutup melemah ke level Rp17.915 per dolar AS. Jika dibandingkan dengan posisi perdagangan sebelumnya, mata uang Garuda ini mengalami penyusutan sebesar 28 poin atau setara dengan penurunan 0,16 persen.
Kondisi pelemahan ini terjadi di tengah dinamika pasar keuangan Asia yang bergerak sangat bervariasi terhadap dolar AS. Di kawasan Asia sendiri, terdapat perbedaan performa yang cukup mencolok antar mata uang negara tetangga. Sejumlah mata uang seperti Yuan China tercatat mengalami penguatan tipis sebesar 0,06 persen, sementara dolar Hong Kong juga menunjukkan tren positif dengan kenaikan sebesar 0,01 persen.

Namun, mayoritas mata uang di Asia justru mengalami tekanan. Peso Filipina menjadi salah satu yang paling terdampak dengan depresiasi mencapai 0,21 persen. Selain itu, Won Korea Selatan juga melemah 0,17 persen. Mata uang lainnya seperti dolar Singapura, ringgit Malaysia, dan Yen Jepang juga tidak luput dari koreksi dengan angka pelemahan di kisaran 0,04 hingga 0,11 persen.
Situasi serupa juga terlihat pada mata uang utama negara-negara maju. Sebagian besar mata uang global seperti Euro, Poundsterling Inggris, dolar Australia, dan Franc Swiss mengalami pelemahan terhadap dolar AS. Hanya dolar Kanada yang tercatat sedikit menguat sebesar 0,01 persen di tengah gempuran penguatan dolar AS.
Analis mata uang dari Doo Financial Futures, Lukman Leong, mengungkapkan bahwa tekanan terhadap rupiah dipicu oleh kombinasi faktor eksternal dan domestik. Menurutnya, penguatan indeks dolar AS (DXY) dan kenaikan imbal hasil US Treasury (UST) menjadi faktor utama yang menekan nilai tukar rupiah.
"Rupiah ditutup melemah terhadap dolar AS di tengah DXY, yield UST, dan harga minyak mentah dunia yang kembali naik akibat adanya ancaman serangan militer AS terhadap Iran," ujar Lukman saat memberikan keterangannya kepada faktual.news, Kamis (8/10).
Selain faktor geopolitik yang memicu kenaikan harga minyak mentah dunia, kondisi ekonomi dalam negeri juga turut memberikan beban tambahan bagi rupiah. Lukman menjelaskan bahwa data ekonomi domestik menunjukkan adanya penurunan pada indeks kepercayaan konsumen Indonesia.
"Data yang menunjukkan penurunan pada indeks kepercayaan konsumen Indonesia, dari angka 118,5 menjadi 118,1, turut menjadi faktor yang membebani pergerakan rupiah di pasar," tambahnya.
Kombinasi antara ketidakpastian geopolitik di Timur Tengah yang memperkuat dolar AS serta melemahnya sentimen konsumen di dalam negeri membuat rupiah sulit untuk menguat dalam perdagangan sore ini. Para pelaku pasar kini tengah menanti perkembangan situasi global, terutama terkait ketegangan antara AS dan Iran, yang diprediksi akan terus memengaruhi volatilitas mata uang di pasar global.


