Faktual.news – Pemerintah melalui Kementerian Perdagangan (Kemendag) mengambil langkah cepat untuk meredam gejolak harga pangan di pasar. Salah satu langkah konkret yang diambil adalah dengan melakukan intervensi distribusi logistik, yakni mengirimkan sebanyak 7 ton cabai dari Jawa Timur menuju Halmahera, Maluku Utara. Langkah ini diambil guna menyeimbangkan ketersediaan stok pangan di wilayah yang mengalami kelangkaan sekaligus menekan lonjakan harga yang kian mencekik konsumen.
Menteri Perdagangan, Budi Santoso, menjelaskan bahwa pengiriman pasokan antarwilayah ini merupakan bagian dari upaya strategis untuk mengatasi ketimpangan distribusi. Menurutnya, Jawa Timur saat ini sedang mengalami surplus produksi cabai, sehingga sangat ideal untuk menyuplai daerah-daerah yang mengalami defisit stok.

"Kemarin kita sudah mengirimkan 7 ton cabai dari Jawa Timur ke Halmahera. Hal ini dilakukan karena Jawa Timur memiliki surplus produksi. Operasi ini merupakan hasil sinergi kuat antara Kemendag dengan Badan Pangan Nasional (Bapanas), Bank Indonesia (BI), serta pemerintah daerah setempat," ujar Budi saat memberikan keterangan di Jakarta Pusat, Selasa (3/11).
Budi mengungkapkan bahwa salah satu pemicu utama melonjaknya harga cabai, baik cabai rawit maupun cabai merah, adalah faktor cuaca ekstrem. Kondisi cuaca yang tidak menentu dalam beberapa waktu terakhir telah mengganggu siklus tanam dan masa panen para petani, yang berdampak langsung pada penurunan volume produksi di tingkat hulu.
"Faktor cuaca menjadi penyebab utama. Dengan kondisi cuaca seperti sekarang, produksi di tingkat petani memang mengalami penurunan. Namun, karena produksi cabai ini tersebar di daerah-daerah tertentu, masih ada wilayah yang mengalami surplus. Oleh karena itu, peran pemerintah adalah memfasilitasi logistik dari daerah surplus ke daerah yang sedang kekurangan," tambahnya.
Berdasarkan data terbaru dari Sistem Pemantauan Pasar Kebutuhan Pokok (SP2KP) Kementerian Perdagangan, harga cabai di tingkat nasional memang menunjukkan tren kenaikan. Harga rata-rata nasional cabai rawit merah kini menyentuh angka Rp71.662 per kilogram, jauh di atas harga acuan yang ditetapkan sebesar Rp57.000 per kilogram. Sementara itu, harga rata-rata cabai merah keriting berada di angka Rp67.480 per kilogram, melampaui harga acuan sebesar Rp55.000 per kilogram.
Menariknya, pemerintah tidak akan berhenti pada komoditas cabai saja. Budi menegaskan bahwa strategi pemerataan logistik ini akan segera diterapkan pada komoditas pangan lainnya yang mengalami ketimpangan harga akibat kendala distribusi. Salah satu fokus berikutnya adalah komoditas telur ayam.
"Dalam waktu dekat, kami sedang mempersiapkan skema serupa untuk komoditas lain, seperti telur. Jika ada daerah yang surplus telur, akan segera kita distribusikan ke daerah yang kekurangan," jelas Budi.
Saat ini, secara nasional produksi telur ayam sebenarnya masih dalam kondisi surplus dengan harga rata-rata Rp26.400 per kilogram, masih di bawah harga acuan Rp30.000 per kilogram. Namun, kendala jalur distribusi di beberapa wilayah menyebabkan harga di daerah tersebut melonjak tajam. Dengan adanya intervensi distribusi ini, pemerintah berharap harga di pasar dapat kembali stabil sesuai dengan harga acuan, sehingga daya beli masyarakat terjaga dan kesejahteraan peternak tetap terlindungi.


