Faktual.news – Persaingan ekonomi di kawasan Asia Tenggara semakin memanas seiring dengan performa ekonomi Vietnam yang menunjukkan tren pertumbuhan yang sangat agresif. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, mengungkapkan bahwa ada beberapa faktor kunci yang membuat Vietnam mampu melesat lebih cepat dibandingkan Indonesia. Salah satu poin utama yang disoroti adalah kemampuan negara tetangga tersebut dalam melakukan lompatan struktur industri yang sangat signifikan.
Dalam keterangannya pada acara BIG Downstream Insights 2026 di Jakarta Selatan, Airlangga menjelaskan bahwa terdapat perbedaan mencolok dalam tingkatan industri antara Indonesia dan Vietnam. Saat ini, Indonesia masih banyak berfokus pada sektor agrowisata di tingkatan pertama (tier 1) serta industri manufaktur dasar di tingkatan kedua (tier 2). Sebaliknya, Vietnam telah berhasil menembus industri teknologi tinggi yang masuk dalam kategori tier 3.

"Jika kita ingin mengejar pertumbuhan ekonomi Vietnam yang bisa mencapai angka 9 persen, sementara kita rata-rata masih di angka 5 persen, maka Indonesia harus segera melakukan akselerasi di sektor digitalisasi, semikonduktor, hingga kecerdasan buatan (AI). Itulah keunggulan yang sudah lebih dulu dilakukan oleh Vietnam," ujar Airlangga.
Selain sektor teknologi, faktor ketersediaan lahan untuk Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) menjadi pembeda yang sangat kontras. Airlangga memaparkan bahwa luas KEK di Indonesia hanya berkisar di angka 24 ribu hektar. Angka ini terasa sangat kecil jika dibandingkan dengan Vietnam yang memiliki luas KEK mencapai 2 juta hektar. Skala yang masif ini, ditambah dengan kepastian hukum dan pelayanan yang sangat baik bagi investor asing, membuat Vietnam menjadi magnet investasi yang sangat kuat di mata dunia.
Lebih lanjut, Vietnam juga sangat proaktif dalam mengamankan akses pasar internasional. Mereka telah lebih dulu mengesahkan perjanjian kerja sama ekonomi komprehensif (CEPA) dengan Uni Eropa, sebuah langkah yang belum sepenuhnya serupa dengan Indonesia. Selain itu, Vietnam juga berhasil mengantongi kesepakatan tarif yang sangat menguntungkan dari Amerika Serikat, sehingga produk ekspor mereka dapat masuk ke pasar negara maju dengan biaya yang lebih murah dan waktu yang lebih cepat.
Namun, Airlangga memberikan catatan penting bahwa Vietnam memiliki keterbatasan dalam hal kekuatan pasar domestik. Berbeda dengan Indonesia yang memiliki pasar dalam negeri yang sangat besar, Vietnam sangat bergantung pada pasar luar negeri. Hal ini memaksa seluruh investasi yang masuk ke Vietnam harus berorientasi sepenuhnya pada ekspor.
Berdasarkan data ekonomi terbaru, pertumbuhan ekonomi Vietnam pada kuartal III tahun 2026 menunjukkan peningkatan yang didorong oleh kinerja ekspor yang kuat serta pembangunan infrastruktur yang masif. Meski demikian, tantangan tetap ada, terutama terkait kenaikan biaya impor akibat dinamika geopolitik global yang dapat memengaruhi defisit perdagangan mereka.


