Faktual.news – Mata uang Garuda menunjukkan taringnya pada perdagangan Rabu (30/9) sore dengan mencatatkan penguatan yang cukup signifikan. Nilai tukar rupiah berhasil menyentuh level Rp17.894 per dolar AS, sebuah pergerakan positif yang memberikan angin segar bagi stabilitas ekonomi domestik. Jika dibandingkan dengan sesi perdagangan sebelumnya, mata uang kebanggaan Indonesia ini melonjak sebanyak 87 poin atau setara dengan kenaikan sebesar 0,48 persen.
Tren penguatan rupiah ini tidak terjadi di ruang hampa. Pergerakan positif mata uang Indonesia ini berjalan selaras dengan mayoritas mata uang di kawasan Asia yang juga menunjukkan performa impresif terhadap dolar AS. Berbagai mata uang regional tercatat mengalami apresiasi, di antaranya adalah Yuan China yang naik tipis 0,02 persen, serta Ringgit Malaysia yang juga menguat 0,02 persen.

Kenaikan juga terlihat pada dolar Singapura yang naik 0,09 persen, Yen Jepang yang melesat 0,21 persen, dan dolar Hong Kong yang bergerak naik 0,01 persen. Meski demikian, tidak semua mata uang di Asia mengalami keberuntungan yang sama. Peso Filipina terpantau sedikit melemah 0,12 persen, sementara Won Korea Selatan mengalami depresiasi tipis sebesar 0,07 persen terhadap dolar AS.
Di pasar global, pergerakan mata uang utama negara-negara maju menunjukkan dinamika yang bervariasi. Euro Eropa tercatat menguat 0,06 persen, diikuti oleh Poundsterling Inggris yang naik 0,25 persen. Dolar Kanada juga mengalami kenaikan tipis 0,04 persen, sementara Franc Swiss menguat 0,07 persen. Di sisi lain, dolar Australia justru menunjukkan tren sebaliknya dengan mengalami pelemahan sebesar 0,17 persen.
Menanggapi fenomena penguatan ini, analis mata uang dari Doo Financial Futures, Lukman Leong, memberikan pandangannya. Menurutnya, langkah agresif Bank Indonesia (BI) melalui intervensi pasar menjadi faktor kunci yang mendorong rupiah kembali ke jalur positif. BI dinilai sangat jeli dalam memanfaatkan momentum pelemahan dolar AS serta tren penurunan harga minyak mentah dunia untuk memperkuat posisi rupiah.
"Rupiah ditutup menguat cukup besar terhadap dolar AS, didukung oleh intervensi BI yang memanfaatkan momentum pelemahan dolar AS dan penurunan harga minyak mentah dunia," ungkap Lukman saat memberikan keterangannya kepada faktual.news.
Lebih lanjut, Lukman menjelaskan bahwa indeks dolar AS mengalami koreksi yang cukup berarti. Hal ini dipicu oleh rilis data ketenagakerjaan Amerika Serikat yang menunjukkan hasil lebih lemah dari ekspektasi pasar. Selain itu, pernyataan bernada dovish dari Presiden Federal Reserve Bank of New York, John Williams, turut memberikan tekanan pada dolar AS, yang pada akhirnya membuka jalan bagi penguatan mata uang negara-negara berkembang, termasuk Indonesia.


