Faktual.news – Nilai tukar rupiah kembali menunjukkan performa yang kurang memuaskan dalam perdagangan Senin (28/9) sore. Mata uang kebanggaan Indonesia ini harus menyerah dan ditutup melemah di level Rp17.798 per dolar AS. Jika dibandingkan dengan perdagangan sebelumnya, mata uang Garuda mengalami penurunan sebesar 75 poin atau setara dengan 0,42 persen.
Kondisi pelemahan rupiah ini rupanya bukan merupakan fenomena tunggal yang terjadi di pasar domestik saja. Berdasarkan pantauan pasar, pergerakan rupiah cenderung searah dengan mayoritas mata uang di kawasan Asia lainnya yang juga mengalami depresiasi terhadap dolar AS. Fenomena ini menunjukkan adanya tekanan global yang cukup kuat terhadap mata uang negara-negara berkembang.

Di kawasan Asia Tenggara, Peso Filipina tercatat melemah 0,11 persen, sementara Ringgit Malaysia mengalami penurunan sebesar 0,25 persen. Tak ketinggalan, dolar Singapura juga turun tipis 0,05 persen, dan Won Korea Selatan mengalami depresiasi sebesar 0,36 persen. Meskipun demikian, terdapat pengecualian di mana mata uang Yuan China dan dolar Hong Kong terpantau bergerak stabil atau datar terhadap dolar AS.
Tekanan terhadap mata uang Asia ini juga merembet ke mata uang negara-negara maju. Euro Eropa tercatat turun 0,05 persen, dolar Australia terkoreksi tipis 0,01 persen, dolar Kanada melemah 0,10 persen, dan franc Swiss turun sebesar 0,34 persen. Namun, di tengah badai pelemahan tersebut, Yen Jepang justru menunjukkan taringnya dengan menguat 0,29 persen terhadap dolar AS, diikuti oleh Poundsterling Inggris yang menguat 0,12 persen.
Menanggapi fenomena ini, analis mata uang dari Doo Financial Futures, Lukman Leong, mengungkapkan bahwa pelemahan rupiah dipicu oleh kombinasi faktor internal dan eksternal yang cukup kompleks. Menurutnya, tekanan dari dalam negeri dipicu oleh tingginya permintaan dolar AS dari para importir serta adanya arus keluar dana asing (capital outflow) dari pasar keuangan Indonesia.
"Rupiah ditutup melemah terhadap dolar AS, tertekan oleh kombinasi faktor internal, yaitu permintaan dolar dari importir dan arus keluar dana asing, serta faktor eksternal berupa penguatan indeks dolar AS dan kenaikan harga minyak dunia," ujar Lukman saat memberikan keterangannya kepada faktual.news.
Kenaikan harga minyak dunia dan penguatan indeks dolar AS menjadi faktor eksternal yang sangat signifikan dalam menekan mata uang negara berkembang, termasuk Indonesia. Kondisi ini menuntut kewaspadaan bagi para pelaku pasar dan pemerintah dalam menjaga stabilitas nilai tukar di tengah ketidakpastian ekonomi global yang masih membayangi. Para investor kini tengah menantikan kebijakan selanjutnya dari bank sentral untuk merespons dinamika pasar yang fluktuatif ini.


