faktual.news – Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia akhirnya mengungkapkan alasan di balik dorongan Presiden Prabowo Subianto untuk mengembangkan bahan bakar minyak (BBM) dari batu bara. Langkah strategis ini disebut-sebut sebagai respons jitu terhadap dinamika geopolitik global yang penuh ketidakpastian.
Menurut Bahlil, inisiatif ini berakar dari pemikiran mendalam untuk memaksimalkan seluruh potensi energi yang ada di Indonesia. Di tengah gejolak dunia, Presiden Prabowo memandang pentingnya kemandirian energi nasional sebagai prioritas utama.

Teknologi mutakhir saat ini telah memungkinkan batu bara berkalori rendah untuk diolah menjadi gas maupun minyak. Bahlil mencontohkan, beberapa negara seperti Tiongkok telah berhasil menerapkan inovasi ini, membuktikan bahwa proyek serupa sangat mungkin diwujudkan di tanah air.
Indonesia, dengan cadangan batu bara yang melimpah ruah, memiliki potensi besar untuk menjadi pusat pengembangan energi alternatif ini. Bahkan, beberapa perusahaan telah mengajukan tawaran kerja sama kepada Kementerian ESDM untuk menggarap teknologi konversi tersebut, sejalan dengan visi besar Presiden.
Kementerian ESDM menegaskan komitmennya untuk menindaklanjuti setiap arahan Presiden Prabowo terkait optimalisasi sumber energi domestik. Tujuannya jelas, yakni untuk memperkuat ketahanan energi nasional dan secara bertahap mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap impor bahan bakar.
Sebelumnya, Prabowo telah menyampaikan bahwa pemerintah tidak hanya berfokus pada pengembangan bahan bakar berbasis kelapa sawit, melainkan juga membidik produksi bensin berbahan dasar batu bara. Penerapan biodiesel B50 bahkan ditargetkan mampu menghentikan impor solar mulai 1 Juli 2026, sebuah capaian ambisius yang menjadi dasar pemerintah terus mencari sumber energi alternatif dari dalam negeri.
Selain batu bara, pemerintah juga tengah mengkaji potensi pengembangan bensin berbasis etanol. Bahlil menambahkan, akan ada tahapan penerapan campuran etanol dalam bensin, mulai dari E10 hingga E50, demi memanfaatkan produksi dalam negeri secara optimal.


