faktual.news – Pemerintah Indonesia menunjukkan keseriusan luar biasa dalam mengejar kemandirian bawang putih. Anggaran fantastis sekitar Rp400 miliar kini digelontorkan untuk menggenjot produksi bibit bawang putih, sebuah langkah krusial dalam program swasembada komoditas penting ini. Dana jumbo tersebut akan difokuskan untuk mendukung pembibitan di lahan seluas 5.000 hektare sepanjang tahun ini.
Wakil Menteri Pertanian Sudaryono menegaskan bahwa inisiatif ini merupakan pijakan awal yang vital guna memangkas ketergantungan impor bawang putih yang saat ini masih mendominasi lebih dari 90 persen kebutuhan nasional. "Visi Presiden Prabowo Subianto jelas, bawang putih sebagai salah satu bahan pokok strategis harus mencapai swasembada," ungkap Sudaryono dalam sebuah konferensi pers di Kementerian Pertanian, Jakarta Selatan.

Menurutnya, target swasembada bawang putih dinilai jauh lebih realistis dibandingkan beras, mengingat kebutuhan lahan yang relatif lebih kecil. Estimasi pemerintah, Indonesia hanya memerlukan sekitar 100 ribu hektare lahan tanam bawang putih untuk memenuhi seluruh permintaan domestik. Namun, kendala utama bukan pada ketersediaan lahan atau minat petani, melainkan pada pasokan bibit dalam jumlah masif yang adaptif dengan kondisi iklim Indonesia.
Sudaryono menjelaskan bahwa bawang putih bukan tanaman yang bisa tumbuh di sembarang tempat. Komoditas ini membutuhkan kawasan dataran tinggi seperti Sembalun di Nusa Tenggara Barat, Temanggung di Jawa Tengah, dan Humbang Hasundutan di Sumatera Utara, yang selama ini telah menjadi sentra pengembangan bawang putih nasional. "Fokus utama kita adalah bagaimana menyediakan bibit yang memadai. Jadi, ketiga wilayah tersebut akan lebih diarahkan sebagai pusat pembibitan massal," imbuhnya.
Ia menambahkan, mengandalkan impor bibit untuk memenuhi target penanaman hingga 100 ribu hektare adalah hal yang mustahil. Selain jumlahnya terbatas, bibit impor juga memerlukan proses adaptasi yang panjang agar sesuai dengan agroklimat dalam negeri. Oleh karena itu, pemerintah memilih strategi memperkuat sistem penangkaran bibit oleh petani lokal, dengan bimbingan penuh dari Direktorat Jenderal Hortikultura Kementerian Pertanian.
Dalam skema inovatif ini, petani akan menerima bantuan bibit dari pemerintah untuk kemudian dikembangkan menjadi bibit baru. Setelah panen, petani memiliki kewajiban mengembalikan bibit sebanyak 1,5 kali dari jumlah yang diterima, sementara sisanya bebas mereka jual. "Pemerintah memberikan jembatan berupa bibit awal. Petani diberi bibit, lalu setelah panen mereka mengembalikan satu setengah kali, sisanya boleh dijual," jelas Sudaryono.
Biaya pembibitan bawang putih memang tergolong tinggi. Untuk satu hektare lahan, estimasi biaya produksi mencapai sekitar Rp120 juta, di mana komponen bibit sendiri menyumbang sekitar Rp75 juta. Atas dasar inilah, pemerintah akan menanggung kebutuhan bibit tersebut melalui dukungan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Berdasarkan perhitungan Kementan, alokasi anggaran untuk program pembibitan 5.000 hektare ini mencapai sekitar Rp375 miliar, atau mendekati angka Rp400 miliar.
Program pembibitan ini mulai digulirkan tahun ini. Selain target 5.000 hektare yang didanai APBN, pemerintah juga berharap Badan Usaha Milik Negara (BUMN) dan sektor swasta ikut berpartisipasi mengembangkan pembibitan hingga 20 ribu hektare. "Dimulai tahun ini. APBN untuk 5.000 hektare. BUMN dan swasta diharapkan bisa mencapai 20 ribu hektare karena kita membidik total 100 ribu hektare," tegas Sudaryono.
Pemerintah memprediksi upaya masif ini akan mulai membuahkan hasil dalam tiga hingga empat tahun ke depan. Pada periode tersebut, impor bawang putih diharapkan menyusut secara progresif seiring dengan lonjakan produksi di dalam negeri. "Kami berharap dalam tiga-empat tahun, konsumsi yang selama ini dipenuhi impor akan berangsur-angsur berkurang. Syukur-syukur bisa nol dan kita benar-benar swasembada," pungkas Sudaryono.
Langkah ambisius mengejar swasembada bawang putih ini datang di tengah tren penurunan impor dalam beberapa tahun terakhir. Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan volume impor bawang putih Indonesia memang cenderung menurun, dari 602.745 ton pada 2021 menjadi 450.339 ton pada 2025. Meskipun demikian, pasokan bawang putih Indonesia masih sangat didikte oleh impor, dengan Tiongkok tetap menjadi negara asal utama sepanjang periode tersebut.


