faktual.news – Upaya Indonesia mencapai kemandirian bawang putih menghadapi tantangan serius. Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman blak-blakan membeberkan akar masalahnya: ketersediaan bibit yang sangat terbatas menjadi penghalang utama cita-cita swasembada komoditas strategis ini.
Amran menjelaskan, pemerintah menargetkan produksi bawang putih mencapai 40 ribu ton pada tahun 2027. Namun, ia menegaskan bahwa kendala yang dihadapi bukanlah soal alokasi dana. "Ini bukan karena anggaran, kami bisa saja menggeser dana. Tapi masalahnya adalah bibit yang sangat langka," ujar Amran dalam Rapat Dengar Pendapat dengan Komisi IV DPR RI, Selasa (1/9). Bahkan, Direktorat Jenderal Hortikultura telah dikirim ke berbagai negara, termasuk Tiongkok dan India, demi mencari sumber bibit unggul untuk mempercepat produksi domestik.

Menurut Amran, bawang putih memiliki karakteristik unik yang berbeda dari padi atau jagung. Tanaman ini memerlukan masa dormansi sekitar enam hingga delapan bulan sebelum dapat ditanam kembali. "Kami ingin bergerak cepat, namun ternyata mendapatkan bibit itu tidak semudah yang dibayangkan," tambahnya, menyoroti kompleksitas dalam mempercepat siklus tanam.
Menanggapi pernyataan tersebut, Ketua Komisi IV DPR RI Titiek Soeharto memberikan masukan penting. Ia mendesak Amran agar tidak hanya fokus pada pencarian bibit, melainkan juga secara bersamaan mempersiapkan lahan tanam yang memadai. "Lahan harus sudah siap begitu bibit didapatkan," tegas Titiek, menekankan pentingnya perencanaan terpadu.
Titiek juga menyoroti potensi bibit bawang putih lokal yang berkualitas, seperti yang ia temukan saat meninjau daerah Sembalun. "Kita punya bibit-bibit bagus di Sembalun, itu bisa diperbanyak dari sana," sarannya. Ia menambahkan, penyiapan lahan perlu mempertimbangkan lokasi dengan ketinggian yang sesuai untuk tanaman bawang putih, sehingga begitu bibit tersedia, penanaman bisa langsung dilakukan tanpa hambatan.


