faktual.news – Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) baru-baru ini melontarkan peringatan keras tentang potensi anjloknya produksi minyak sawit nasional. Prediksi yang mencengangkan ini menyebutkan penurunan hingga 3 juta ton pada tahun 2027, sebuah imbas nyata dari fenomena El Nino yang melanda. Namun, Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman dengan sigap menepis kekhawatiran berlebihan, menegaskan bahwa pemerintah telah menyiapkan strategi jitu untuk menjaga denyut nadi industri sawit Indonesia.
Proyeksi Gapki, yang sebelumnya sempat lebih pesimistis dengan angka 4-5 juta ton, kini direvisi menjadi 3 juta ton. Angka ini setara dengan sekitar 5 persen dari total estimasi produksi sawit Indonesia tahun ini yang mencapai 56,6 juta ton. Ketua Umum Gapki, Eddy Martono, menjelaskan bahwa meskipun beberapa wilayah perkebunan telah diguyur hujan, kombinasi antara curah hujan ekstrem, suhu panas, dan kondisi kering tetap menjadi ancaman serius bagi siklus produksi serta efektivitas pemupukan. Jika skenario terburuk ini terjadi, pasokan global berpotensi mengetat, terutama di tengah ambisi Indonesia untuk program biodiesel B50, dan prioritas pemenuhan kebutuhan domestik akan membuat ekspor menjadi korban utama.

Menanggapi skenario tersebut, Amran Sulaiman menyatakan keyakinannya bahwa dampak El Nino terhadap produksi sawit tidak akan sebesar yang dikhawatirkan. "Pengaruhnya mungkin ada, tapi kami optimis tidak akan signifikan," ujarnya di Karawang, Jawa Barat. Ia membeberkan serangkaian langkah antisipatif yang telah dan akan terus digalakkan pemerintah. Fokus utama adalah memastikan ketersediaan pupuk yang tepat waktu, intensifikasi pemeliharaan tanaman, pengendalian hama yang efektif, serta penanganan dampak kekeringan, termasuk upaya pengairan jika memungkinkan.
Menteri Pertanian juga menekankan bahwa secara keseluruhan, dampak kekeringan terhadap lahan pertanian di Indonesia relatif kecil. Dari total luas tanam sekitar 11 juta hektare, hanya sekitar 30 ribu hektare yang dilaporkan mengalami kekeringan. "Lahan yang terdampak sudah kami tangani secara serius," tegas Amran. Ia bahkan menambahkan bahwa di luar lahan yang kekeringan, pemerintah juga proaktif mengajak petani untuk menanam di lahan-lahan yang sebelumnya tidak produktif.
Lebih jauh, pemerintah telah merancang program ambisius untuk memanfaatkan lahan-lahan tidur yang memiliki potensi sumber air. Dengan pemasangan pompa air, lahan-lahan ini diharapkan dapat kembali subur dan produktif. "Target kami di Jawa saja bisa mencapai 100 ribu hektare lahan yang tidak ditanami namun berpotensi air, akan kami garap," pungkas Amran, menunjukkan komitmen kuat pemerintah untuk menjaga ketahanan pangan dan energi nasional melalui sektor sawit. Ini juga sejalan dengan capaian ekspor CPO tahun lalu yang melonjak dari 26 juta ton menjadi 32 juta ton, sebuah indikasi bahwa sektor ini memiliki daya tahan yang kuat.


