faktual.news – Hanya segelintir individu yang berhasil mengukir jejak dominasi di kancah finansial global selama lebih dari tiga dekade, dan Kenneth Cordele Griffin adalah salah satunya. Sosok maestro pasar keuangan Amerika Serikat ini kini menempati posisi ke-37 dalam daftar miliarder dunia, dengan total kekayaan fantastis mencapai Rp943 triliun menurut catatan Forbes.
Griffin dikenal luas sebagai pendiri sekaligus CEO Citadel LLC, sebuah perusahaan investasi alternatif atau hedge fund terkemuka di Negeri Paman Sam. Di tangannya, Citadel LLC kini mengelola dana raksasa sekitar US$68 miliar. Namun, pengaruhnya tak berhenti di situ. Ia juga merupakan pemilik utama Citadel Securities, sebuah perusahaan market maker yang memegang kendali atas 20 hingga 25 persen volume perdagangan saham ritel harian di AS. Ini berarti, setiap kali investor ritel bertransaksi di bursa AS, besar kemungkinan alur transaksinya melewati sistem algoritma canggih yang dibangun oleh Griffin.

Kisah kesuksesan Griffin berawal dari langkah berani saat ia masih berusia 19 tahun dan berstatus mahasiswa di Harvard. Dengan tekad kuat, ia berhasil meyakinkan pihak kampus untuk mengizinkannya memasang antena parabola di atap asramanya. Tujuannya sederhana, yakni mendapatkan kuotasi harga pasar secara akurat dan real-time melalui satelit. Dari kamar asramanya itulah, ia mulai bertransaksi obligasi dan bahkan meraup laba signifikan pertamanya saat pasar saham ambruk dalam tragedi Black Monday 1987.
Berbekal dana awal US$4,6 juta atau sekitar Rp81,68 miliar yang ia kumpulkan dari keluarga dan kerabat, Griffin mendirikan Citadel pada tahun 1990. Di saat sebagian besar investor Wall Street era 90-an masih mengandalkan intuisi dan koneksi telepon, Griffin justru merintis pendekatan inovatif yang dikenal sebagai Kuantitatif dan Teknologi. Ia mengumpulkan talenta terbaik dari kalangan matematikawan, fisikawan, dan ilmuwan komputer untuk membangun kode serta algoritma super cepat. Sistem ini dirancang untuk mengidentifikasi anomali harga di pasar modal sebelum pihak lain menyadarinya.
Strategi visioner tersebut terbukti ampuh. Ketika krisis finansial 2008 mengguncang pasar keuangan dunia, Citadel berhasil bangkit dan bertransformasi menjadi mesin pencetak keuntungan paling stabil di industri finansial. Kemampuan Griffin untuk tetap tenang di tengah badai ekonomi, mengkalkulasi risiko dengan presisi tinggi, dan terus beradaptasi dengan kemajuan teknologi, sukses menjadikannya salah satu sosok paling berpengaruh di abad ke-21.
Perjalanan karier Griffin juga diwarnai oleh aksi-aksi yang tak biasa, termasuk kemenangannya atas komunitas kripto pada tahun 2021. Saat itu, kelompok desentralisasi kripto (Constitution DAO) menggalang dana kolektif hampir US$40 juta untuk membeli cetakan asli Konstitusi Amerika Serikat tahun 1787 di rumah lelang Sotheby’s. Namun, di menit-menit terakhir, Griffin masuk ke pelelangan dan mengungguli tawaran komunitas tersebut, membeli dokumen bersejarah itu seharga US$43,2 juta atau setara Rp767,1 miliar. Uniknya, alih-alih menyimpannya di brankas pribadi, Griffin justru menyerahkannya ke museum publik agar dapat dinikmati masyarakat luas secara gratis.
Di balik ketajamannya dalam berbisnis, Griffin juga dikenal sebagai pribadi yang loyal. Ia pernah menyewa seluruh kawasan Walt Disney World di Florida, lengkap dengan tiket pesawat, hotel, hingga pertunjukan lainnya, hanya untuk menghibur ribuan karyawan Citadel. Aksi tersebut merupakan bentuk apresiasi atas pencapaian rekor keuntungan perusahaan yang diraih berkat kinerja luar biasa para karyawannya. Selain itu, Griffin juga merupakan penggemar koleksi properti mewah. Ia bahkan pernah memecahkan rekor pembelian properti termahal dalam sejarah AS saat mengakuisisi sebuah penthouse di New York City senilai US$238 juta atau setara Rp4,23 triliun.


