Faktual.news – Langkah strategis yang diambil oleh pengusaha ternama Kalimantan Selatan, Andi Syamsudin Arsyad atau yang akrab disapa Haji Isam, kembali mencuri perhatian publik di pasar modal. Sebelum melakukan manuver besar dengan membeli saham PT Bayan Resources Tbk (BYAN), pengusaha sukses ini diketahui telah melakukan aksi gadai saham terhadap dua perusahaan miliknya kepada PT Bank Mandiri (Persero) Tbk.
Berdasarkan data keterbukaan informasi yang dirilis oleh Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Rabu (7/10), transaksi gadai saham tersebut dilakukan pada akhir September lalu. Menariknya, rangkaian aksi korporasi ini terjadi sesaat sebelum transaksi pembelian saham BYAN melalui PT Jhonlin Baratama rampung pada 7 Oktober. Hal ini memicu spekulasi di kalangan investor mengenai strategi pendanaan yang digunakan untuk memperkuat posisi keuangan grup usahanya.

Detail transaksi pertama melibatkan PT Jhonlin Agro Raya Tbk (JARR). Direktur Utama JARR, Indra Irawan, mengungkapkan bahwa pemegang saham pengendali perusahaan, yakni PT Eshan Agro Sentosa, telah menggadaikan sebanyak 7.997.556.204 lembar saham. Langkah ini menjadi bagian dari pengelolaan aset yang dilakukan oleh pihak pengendali.
Tak hanya JARR, perusahaan lain di bawah naungan afiliasi Haji Isam, yakni PT Pradiksi Gunatama Tbk (PGUN), juga melakukan langkah serupa. Direktur PGUN, Tamlikho, menjelaskan bahwa terdapat tiga entitas yang terafiliasi dengan Haji Isam melakukan penjaminan saham kepada pihak perbankan. Ketiga entitas tersebut adalah PT Araya Agro Lestari, PT Citra Agro Raya, dan PT Baramega Citra Mulia Persada.
Secara terperinci, PT Araya Agro Lestari menggadaikan 2.205.667.896 lembar saham, disusul oleh PT Citra Agro Raya dengan jumlah 2.194.778.786 lembar saham, serta PT Baramega Citra Mulia Persada sebanyak 900.000.250 lembar saham. Jika ditotal, jumlah saham PGUN yang dijadikan jaminan mencapai angka fantastis, yakni sekitar 5,29 miliar lembar saham.
Manajemen dari kedua perusahaan tersebut memberikan klarifikasi resmi mengenai tujuan dari aksi gadai ini. Dalam keterbukaan informasi kepada BEI, manajemen menyatakan bahwa transaksi tersebut dilakukan sebagai jaminan atas fasilitas kredit yang diperoleh oleh afiliasi perseroan. Dengan kata lain, langkah ini merupakan bagian dari manajemen likuiditas untuk mendapatkan pendanaan segar.
Pihak manajemen juga memberikan jaminan kepada para investor bahwa aksi gadai saham ini tidak akan mengganggu stabilitas perusahaan. Mereka menegaskan bahwa transaksi ini tidak akan mengubah struktur pengendalian perusahaan, sehingga kelompok pengendali tetap berada di tangan yang sama. Selain itu, aksi ini dipastikan tidak akan menyebabkan dilusi kepemilikan saham maupun perubahan pada modal ditempatkan dan disetor.
Direksi kedua perusahaan memastikan bahwa seluruh proses transaksi telah mengikuti prosedur yang wajar serta mematuhi regulasi perundang-undangan yang berlaku di pasar modal Indonesia. Langkah ini dipandang sebagai bagian dari strategi keuangan yang terukur untuk mendukung ekspansi bisnis yang lebih luas di masa mendatang.


