Faktual.news – Gelaran bergengsi Pertamina Grand Prix of Indonesia 2026 di Sirkuit Mandalika tidak hanya menyuguhkan aksi memacu adrenalin para pembalap dunia di lintasan balap. Di balik deru mesin motor yang menggelegar, terdapat geliat ekonomi yang luar biasa dari para pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) lokal yang tengah berupaya menjemput peluang emas di pasar internasional.
Bagi para pelaku usaha di sekitar kawasan Mandalika, ajang MotoGP ini bukan sekadar festival olahraga, melainkan panggung utama untuk memperkenalkan identitas budaya dan produk lokal kepada mata dunia. Mereka melihat kehadiran ribuan wisatawan mancanegara sebagai momentum untuk memperluas jejaring pasar yang selama ini terbatas secara geografis.

Salah satu pelaku usaha yang merasakan antusiasme ini adalah Rohaniah, pemilik Malindo Coffee. Ia menyadari bahwa wisatawan yang datang ke destinasi super prioritas seperti Mandalika memiliki karakteristik mobilitas yang sangat tinggi. Mereka membutuhkan produk yang praktis namun tetap memiliki nilai kenangan.
"Kami berinovasi dengan menciptakan stik kopi pertama di Lombok. Kami ingin wisatawan yang datang ke Mandalika tidak hanya membawa memori tentang balapan, tetapi juga membawa cita rasa kopi lokal dalam kemasan yang ringkas dan mudah dibawa sebagai buah tangan," ujar Rohaniah dengan penuh optimisme.
Senada dengan Rohaniah, M. Arif Yani yang mengelola usaha Sate Ibu Lilik, juga memanfaatkan momentum ini untuk memperkenalkan kuliner khas Lombok, yakni sate lilit ayam. Baginya, fasilitas area Festival di sekitar Pertamina Mandalika International Circuit adalah pintu gerbang untuk menjangkau konsumen dari berbagai belahan dunia. Melalui pelatihan dan pendampingan dari Rumah BUMN Pertamina, para pelaku usaha ini merasa jauh lebih siap menghadapi standar kualitas internasional.
Tak hanya sektor kuliner, sektor produk gaya hidup juga ikut bersinar. Estuaria Salt, sebuah jenama yang dipimpin oleh Andika Satriawan, menunjukkan bagaimana nilai tambah dapat diciptakan dari bahan baku lokal. Mereka mengolah garam hasil produksi ibu-ibu nelayan menjadi produk bernilai tinggi seperti aromaterapi, bath salt, hingga lilin aromatik.
"Kami mengusung misi sosial. Garam yang sebelumnya dihargai sangat murah oleh petani, kami beli untuk diolah menjadi produk premium. Ini adalah bentuk pemberdayaan ekonomi masyarakat pesisir," jelas Andika.
Menanggapi fenomena ini, Vice President Corporate Communication PT Pertamina (Persero), Muhammad Baron, menegaskan bahwa esensi dari ajang internasional seperti Grand Prix of Indonesia harus melampaui batas lintasan balap. Menurutnya, keberhasilan sebuah event global diukur dari sejauh mana dampak ekonominya menyentuh lapisan masyarakat paling bawah.
"Harapan kami, ada ekonomi yang bergerak secara masif di sekeliling sirkuit. Produk lokal harus mendapatkan panggung, dan pelaku usaha kecil harus mendapatkan kesempatan untuk memperluas jejaring mereka," tutur Baron.
Dengan rentang harga produk yang sangat kompetitif, mulai dari Rp20 ribu hingga Rp100 ribu, UMKM lokal kini siap menyambut dunia, membuktikan bahwa olahraga motor kelas dunia mampu menjadi katalisator pertumbuhan ekonomi kerakyatan yang nyata.


