Faktual.news – Menyikapi tren kenaikan harga beras yang terus membayangi pasar domestik, Perum Bulog mengambil langkah strategis dengan memperkuat pasokan beras kualitas premium. Lembaga pangan negara ini menargetkan produksi beras komersial kelas atas sebanyak 300 ribu ton hingga Desember mendatang. Langkah agresif ini diambil sebagai upaya nyata untuk meredam lonjakan harga yang kian terasa, terutama di jaringan ritel modern dan pasar swalayan.
Direktur Utama Perum Bulog, Ahmad Rizal Ramdhani, mengungkapkan bahwa intervensi besar-besaran ini merupakan respons langsung atas kondisi pasar yang mulai tidak stabil. Berdasarkan pantauan di lapangan, kenaikan harga beras di tingkat konsumen saat ini didominasi oleh varian beras premium. Hal ini dipicu oleh melambungnya harga Gabah Kering Panen (GKP) di tingkat petani, yang kemudian berdampak berantai pada harga jual di pasar.

"Sesuai arahan Menteri Pertanian, karena ada indikasi mulai terjadi kenaikan harga, Bulog diperintahkan untuk segera memproduksi beras komersial sebanyak 300 ribu ton hingga bulan Desember nanti," ujar Rizal dalam konferensi pers di kantor pusat Bulog, Jakarta Selatan.
Rizal menjelaskan bahwa proses pengolahan beras premium ini dilakukan dengan menggandeng berbagai mitra penggilingan padi di seluruh penjuru tanah air. Hingga saat ini, progres produksi sudah menunjukkan hasil yang signifikan. Ia menyebutkan bahwa jumlah beras premium yang telah diproses telah menyentuh angka sekitar 71 ribu hingga 72 ribu ton.
"Kami sedang memacu jajaran pemasaran untuk mengolah beras yang kami beli secara komersial menjadi beras kualitas premium. Saat ini, prosesnya melibatkan seluruh mitra Bulog dari Sabang sampai Merauke," tambahnya.
Target utama dari penggelontoran pasokan ini adalah untuk menyasar segmen masyarakat kelas menengah. Kelompok ini dinilai sangat terdampak oleh kenaikan harga, namun tidak masuk dalam cakupan program bantuan pangan pemerintah yang biasanya menyasar masyarakat prasejahtera.
Menurut analisis Bulog, salah satu faktor utama yang memicu ketidakstabilan harga adalah menipisnya stok pasokan setelah berakhirnya musim panen raya. Kondisi kelangkaan stok ini memicu persaingan harga yang ketat di tingkat petani. Akibatnya, harga gabah di tingkat petani melonjak drastis, bahkan menembus angka Rp7.000 hingga Rp9.000 per kilogram. Angka ini jauh melampaui Harga Pembelian Pemerintah (HPP) yang ditetapkan sebesar Rp6.500 per kilogram.
Meskipun tantangan di tingkat hulu cukup besar, Bulog optimis bahwa masuknya stok beras komersial ke jaringan ritel modern akan mampu mengendalikan harga dalam waktu dekat. Saat ini, berbagai merek beras premium milik Bulog sudah mulai memenuhi rak-rak supermarket di kota-kota besar.
"Jika dipantau di lapangan, khususnya di kota-kota besar, ritel modern sudah mulai terisi banyak dengan beras premium produksi Bulog. Kami berharap dengan intervensi pasokan 300 ribu ton ini, harga beras dapat segera stabil dan kembali normal," pungkas Rizal.


