Faktual.news – Pemerintah Indonesia tengah menyiapkan langkah strategis besar untuk memperkuat ketahanan pangan nasional sekaligus melindungi kesejahteraan para peternak lokal. Melalui Kementerian Pertanian (Kementan), pemerintah berencana membangun pabrik pengolahan tepung telur dan daging yang dijadwalkan mulai dikerjakan dalam waktu dekat. Proyek ambisius ini diproyeksikan menjadi solusi jangka panjang terhadap fluktuasi harga komoditas peternakan yang kerap merugikan peternak di tingkat akar rumput.
Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman, mengungkapkan bahwa rencana pembangunan fasilitas pengolahan ini telah mendapatkan sinyal positif dari berbagai pihak terkait. Dukungan tersebut datang dari Kepala Badan Pengaturan (BP) BUMN, Dony Oskaria, serta Menteri Perdagangan, Budi Santoso. Meski demikian, langkah formal untuk merealisasikan proyek ini masih harus melalui mekanisme birokrasi yang ketat guna memastikan keselarasan antarlembaga.

Amran menjelaskan bahwa usulan pembangunan pabrik ini akan segera dibawa ke meja Rapat Koordinasi Terbatas (Rakortas). Forum tersebut menjadi krusial karena melibatkan berbagai kementerian terkait untuk mendapatkan persetujuan kolektif. "Ini baru akan kami usulkan di Rakortas. Harapannya, pembangunan pabrik pengolahan tepung telur dan daging ini bisa segera terealisasi. Kami memohon dukungan agar rencana ini disetujui oleh kementerian lain dalam rapat nanti," ujar Amran saat ditemui di kediamannya di kawasan Pancoran, Jakarta Selatan.
Jika rencana ini mendapatkan lampu hijau dalam Rakortas, pemerintah menargetkan proses konstruksi fisik dapat dimulai pada tahun depan. Amran optimistis bahwa pembangunan infrastruktur pabrik ini tidak akan memakan waktu terlalu lama, dengan estimasi penyelesaian antara 1,5 hingga maksimal 2 tahun saja.
Langkah ini merupakan bagian dari visi besar pemerintah untuk menciptakan ekosistem peternakan yang terintegrasi secara menyeluruh, mulai dari sektor hulu hingga ke hilir. Selama ini, peternak sering kali terjebak dalam masalah klasik, yaitu kelebihan pasokan saat musim panen raya yang menyebabkan harga jatuh drastis. Dengan adanya pabrik pengolahan ini, kelebihan produksi telur dan daging ayam tidak lagi dibuang atau dijual rugi dalam bentuk segar, melainkan diolah menjadi produk turunan berupa tepung yang memiliki nilai ekonomi jauh lebih tinggi dan masa simpan lebih lama.
Lebih jauh lagi, kehadiran pabrik pengolahan ini diharapkan menjadi "obat penawar" bagi polemik anjloknya harga telur yang selama ini menghantui para peternak ayam petelur. Selain menjaga stabilitas harga di dalam negeri, proyek ini juga membawa misi kedaulatan pangan dengan menekan ketergantungan terhadap produk impor. Pemerintah berharap, dengan adanya produksi tepung telur nasional, kebutuhan industri dalam negeri dapat terpenuhi sepenuhnya oleh hasil produksi tanah air, sehingga ketergantungan pada impor tepung telur dari luar negeri dapat segera dihentikan.


